Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

.

Stupid. Stupid. Udah niat bulat-bulat mau berusaha melupakan. Tapi yang ada kenapa jadi tidak terlupakan? "Kita bakalan bisa lupa sama orang yang kita sayang kalo kita udah nemuin orang lain yang kita sayang dan sayang juga sama kita, walaupun kita nggak sayang sama dia sesayang kita sama orang yang pertama"- Riri. Jleb. Jadi tambah mikir, apa iya gitu? Kalo dianalogikan nih yah: "Ibaratnya nih yah, kayak aku sm kamu diatas satu sampan yang sama.Tapi bedanya, yg ngedayung cuma aku. Kamu cuman asik liat pemandangannya.Tapi dengan liat pemandangan itu kamu jadi senyum dan bahagia. Sampe-sampe kamu ga sadar aku mulai kesusahan mendayung...Niatnya awal mau mutung terus nyebur aja gitu ke lautnya, tapi ketika liat kamu senyum liat pemandangan yg ada. Aku jadi enggan. Soalnya ternyata, bahagiaku itu ngeliat kamu senyum, walaupun itu bukan untuk aku, bukan karena aku, bukan bersamaku" Ngenes abis yak. Itu kode abis lho mas, haha. Eh kan nggak suka kode-kodean sih yak. Ya...

--

Barusan ngetweet ke Sita yang sebenernya tamparan buat diri sendiri. "mau sampai kapan ngadem-ngademin ati dengan keadaan yang jauh dari fakta?". Kayaknya selama ini pikiranku yang kebiasaan buat mikir positive jadi terlatih gitu deh. Mau sampai kapan ngadem-ngademin ati yang sebenernya nggak harusnya gitu. Coba dikaji ulang deh, ini semua cuman penasaran atau suka? Kalau hanya penasaran, cepat akhiri saja rasanya, daripada penasaran tiada henti. Terkadang pengharapan itu memberatkan. Sesungguhnya asal muasal dari kenapa susah move on itu adalah karena pengharapan yang ada terlampau besar sehingga tidak bisa lagi kuat untuk melangkah. Karena ya... tertahan oleh rasa pegharapan yang memberatkan itu. Bagaimana kalau mulai sekarang pengharapannya disimpan dulu untuk yang lebih pasti kelak? Bagaimana kalau mencobanya terlebih dahulu? Masalah hasil, itu sudah menjadi kuasa pencipta. Yang penting  niatnya, yang penting usahanya.

-

Entahlah kayak masih ada banyak yang ngganjel. Gatau itu apa. Dan gabisa fokus ke responsi. Kepikiran terus sama kata-katanya wahyu tadi siang. "Apa yang menurut kamu baik, belum tentu baik buat kamu menurut Allah swt. Jadi ya mau nggak mau kamu belajar ikhlas aja"- Wahyu. Jleb. Sesuatu yang dikira baik belum tentu baik, sesuatu yang dinilai buruk belum tentu buruk selamanya. Apa mungkin itulah alasan Allah yang tidak kunjung mengijabah doaku untuk membolak-balikkan hatinya? Yah kalau memang begitu apa mau dikata, dikata mau apa. Yuk belajar ikhlas yuk far. Insyaallah nanti diganti sama yang lebih baik kok sama Allah :)

Doa

Tengah malem, nangis absurd banget. Abis kepo fb-nya Revan. Dulu banget, dulu. Nyeselnya masih aja keinget sampe sekarang kalo liat dia. Terus iseng buka chat jaman baheula. Semakin nyesek. Semakin tambah pengen nangis dan akhirnya nangis hebat. Dulu semua beda banget, dulu katanya walaupun negaraapi menyerang, aang pasti akan datang dan menyelamatkan dunia. Aang tolong selamatkan duniaku yah. Tuhan, aku juga minta tolong yah, sangat. Dengarkan doa diantara sedu sedanku malam ini. Rubahlah hatinya, karena hanya engkau yang memiliki kuasa akan itu. Hanya engkau yang tau semua skenario ini, aku hanya meminta berikan aku satu kesempatan untuk berubah, untuk membuktikan semuanya. Aku mohon Tuhan, tunjukkan kuasamu kalau kau benar-benar ada dan senantiasa mendengarkan doaku. Aku mohon, Tuhan :"""")

Lalala~

Akhirnya ngeblog tanpa rasa was-was lagi buat disalah artiin apalagi dikepoin. Hehehe. Selamat datang jurnal pribadiku yang bersifat online tapi private. Haaaah nggatau deh ngerasanya banyak banget yang salah, mulai bertanya tanya, sebenarnya ini bener nggak sih? Sebenernya salah nggak sih ini masih aja nyimpen harapan buat orang itu? Dan salah nggak sih kalo aku benci sama yang lalu? Yang nyakitinnya tanpa kira-kira. Yang sekarang, makan sendiri omongan dia. Yang sekarang, nelen lagi ludahnya? Benci. Kecewa. Sebel. Semua jadi satu. Aku udah nggak cemburu, hanya aku benci aja. Bisa-bisanya tertawa diatas tangis orang. Bisa-bisanya.

Apa kabar?

Hai. Apa kabar? Apakah kita masih sama beku? Ataukah kita masih sama keras seperti batu? Atau lagi kita masih sama-sama mendiamkan seperti desau angin yang berhembus tanpa arah? Aku masih diam, masih menungggu badaimu reda dahulu. Tak peduli berapa lama. Tak peduli berapa dekade. Aku masih disini. Masih juga berusaha mengobati rasa sakitku dari yang lalu. Yang berkata manis namun berujung menyayat hati. Yang awalnya menjanjikan kan indah, namun berakhir hancur lebur dihantam badai dan tsunami. Yang namanya, enggan kudengar, enggan kupanggil, dan enggan kuingat. Ternyata sakitnya semakin menggerogoti, terlebih lagi dengan keadaan kita yang seperti ini. Seperti batu.
Perlu waktu bertahun-tahun? Nggak apa-apa kok. Mau nunggu bertahun-tahun? Okedeh.
Ngga tau, stuck. Jalan di tempat. Dengan tempo yang lambat. Dan tiba-tiba berhenti. Fix berhenti. Tapi tetep masih ke satu arah.-
Gambar
Stuck abis. Dan secara gila ganti bio twitter -_-

Syarat.

Syarat utamanya, nggak boleh ngeluh dan harus berkomitmen tinggi. Dalam hal apapun. Well, mari perbaiki diri. Mari stop mengeluh. Mari mencoba melakukan apa yang susah dilakukan sejak dulu. Mari mendewasakan diri. Mari terikat dengan waktu dan rasa sakit yang selalu ada.

Patah.

Kayak denger suara benda patah dari dalam. Nggak tau apa yang patah. Cuman gara-gara itu kayak jadi linglung, jadi bingung. Apa yang patah itu syaraf ya? Kalau hati yang patah, masa iya sih patah? Itu sebenernya jleb nggak sih? Atau aku yang nggak peka? Atau aku yang masih mau nurutin ego buat nundukin rasa penasaran atau, lainnya sih? Nggak ngerti harus nunggu berapa lama, atau harus diam berapa lama. Bener nggak sih aku yang nunggu? Atau harusnya aku yang ditungggu? Atau sebenarnya sudah ada yang menungguku? Mau nunggu sampai badainya selesai, baru mengalihkan pandangan deh. Nunggu sampe bosen sendiri deh. Siapa tau kali ini nggak bosen. Well, kalo nggak berekpetasi, nggak bakal sakit kok. Jalanin aja. Tanpa berharap apapun.

Hujan.

Hujan sedang menyukai kotaku ini. Hampir setiap hari ia datang hanya untuk mencium basah kotaku. Semua orang belum tentu menyukai hujan. Aku menyukai hujan, menyukai saat aku berada di bawah rintik hujannya. Menyukai saat dimana rintiknya mengenai wajahku. Karena disaat itulah aku bisa menitikkan air mata dengan leluasa. Karena aku tau, langit juga ikut menangis dan berduka. Well, klasik memang. Menyukai hujan, apalagi dibawahnya hanya karena tidak akan terlihat ketika menangis. Setidaknya hanya hujan dan rintiknya lah yang selalu bisa mengaburkan semua masa lalu yang menyakitkan. Hanya hujanlah yang mengerti dan mau menyimpan, sepotong kenangan di masa lalu. Masa sebulan yang lalu.

Jalan (dan) Semesta

Masih di jalan yang itu. Masih melewati semesta yang sama. Dan masih keadaan yang riuh deru lalu lalang kehidupan. Di jalan ini, sebuah senyum pernah tersungging. Sebuah tawa bahagia pernah terdengar, lebih tepatnya didengarkan. Dan di jalan yang sama pula, sebuah lantunan doa yang tulus pernah diucapkan mengharap diijabah. Semesta yang sama, semesta yang lalu. Yang seolah selalu menanyakan hal yang sama, "Kapan semua terulang kembali?". Pertanyaan yang menghempas kembali ke rasa sakit yang sama. Rasa sakit yang dibuat karena kebodohan diri dan euphoria yang berlebihan. Masih mematut diri, memperbaiki semua yang ada. Dan berharap suatu saat nanti, kelak, doa yang selalu dilantunkan diijabah dan bahagia. Bersama semesta juga.

Sepakat. Pilihan. Korban.

Sepakat. Pilihan. Korban. 3 hal yang sebenernya saling berkaitan. Sepakat, kali ini kaki-kaki kecil ini berontak meminta kesepakatan. Karena mereka hilang arah dan berjalan tak menentu. Ingin mengikuti jejak langkah kakimu, namun itu terlalu jauh di depan. Di luar jangkauanku. Atau ingin diam disini, terus melakukan gaya namun kecil, tapi dalam waktu yang lama? Atau sama sekali diam tanpa memberikan gaya? Membiarkan semua apa adanya. Membiarkan semesta mengambil peran utama disini? Atau apa? Sepakat ini masih bungkam. Perseteruan masih terjadi antara otak dan hati. Antara logika dan perasaan. Dimana satu menyuruh tuk berhenti dan menghargai mereka yang masih rela menungguku. Dan satu lagi, menyuruh tuk terus berjalan mengikutimu. Walau yang kulihat hanya bayanganmu. "Terkadang nggak selalu perasaan itu bener. Ada kalanya otak yang tau mana yang nyaman dan bikin kita bahagia"- Nain. Dan kalimat itu menambah lagi deru seteru yang ada. Dimana masing-masing merasa paling benar da...

Diam

Kali ini cuma mau diam dan bisa diam. Cuma bisa mematut diri sendiri di depan kaca dan berusaha merapikan apa yang ternyata tidak seharusnya ada dan nampak. Mencoba belajar dari kesalahan dan pengalaman yang lalu-lalu. Dari semua perkataan yang menampar hati. Iya, semua orang seharusnya tidak perlu tau. Semua orang harusnya tidak secepat itu menyimpulkan. Yang membuatmu lalu pergi dan menjauh. Tidak tergapai. Dan entahlah, kenapa masih saja aku melihat ke arahmu. Walau kini yang aku lihat adalah punggung yang kian mengecil karena semakin menjauh dan jauh. Aku berusaha mengikuti langkahmu, berharap semua membaik dan menjadi biasa. Namun, langkah kakimu terlalu lebar untuk kusamai. Lalu aku bisa apa? Menunggu di persimpangan jalan ini? Berharap angin membawa langkah kakimu melewatiku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, agar aku dimaafkan seutuh dan setulusnya?

#dyff

Gambar
Harusnya sih udah apdet sejak puasa kemarin -_- tapi baru keinget sekarang. Haah~~ dyff, miss you so bad :(

Abstrak.

Saya bisa sendiri kok. Saya bisa menyembuhkan semuanya sendiri. Time heals. Tapi time heals kalo seandainya ada jurang pemisah selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tapi kalo buat kasus yang ini ngga mungkin rasanya bisa kayak gitu. Profesional. Act lyk usual. Lyk everything is okay. Jadi butuh topeng yang banyak biar ngga ada yang tau ekspresi sesungguhnya yang mana. Masih dalam proses membiasakan diri untuk sendiri. Sebelumnya, sendiri tidak pernah seberat ini. Ataukah karena belum terbiasa? Hanya bisa berharap semua ini hanya refleksi palsu sesaat. Hanya berharap, kelak bukan hanya refleksi yang ada, namun sosok nyatanya! Terlalu dalam jatuh dan berusaha menggapai tepian untuk naik itu berat. Apalagi dengan hati dan perasaan yang tercecer dan tertumpah ruah di dasar lubang. Membuatku memaksa untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi apa yang salah. Jadi mikir, jadi diri sendiri itu terbaik, namun terbaik untuk kita belum tentu terbaik buat orang lain. Right? Terus harus ja...

9

Terkadang, ketika kamu udah menentukan satu pilihan yang kamu pilih dari hati, pasti ada saja yang berusaha mengahncurkan keyakinanmu. Entah apapun itu caranya, baik atau buruk, kasar atau halus. Dan tidak terpungkiri dalam masalah hati. Kali ini rasanya lebih memuakkan dari sebelum-sebelumnya. Rasanya elegi indahnya senja namun yang memiliki kadar yang memuakkan. Kadar dimana titik jenuhnya sudah maksimal. Sebelumnya aku memilih bersembunyi, memilih menjadi pengecut saat semuanya kembali datang dan berusaha menghentakku dari mimpi indah yang sedang aku rangkai dengan cita dan cinta. Teruntuk kamu, yang hatinya sedang dilanda badai. Aku sekarang berani mengatakan kalau aku berani komit, dan i'll make it for you. No matter when, no mattter how. Tenang aja, gue bakal terus ada di samping lo ketika lo butuh, dan selalu punya banyak ruang dan waktu sebanyak yang lo butuh. Gue selalu disini, di balik pekatnya malam. Dibalik dinginnya udara malam. Menyatu bersama udara yang kau hirup. Me...

Semesta dan Teori Puzzle

Semesta. Malam ini aku kembali berusaha berdamai dengan semesta. Berusaha berdamai dengan keadaan yang ada. Semesta lagi labil. Semesta memintaku untuk barter. Menukar segenap hatiku dengan potongan puzzle. Namun semesta membuatku bingung, yang ia kembalikan adalah sepasang puzzle yang memiliki potongan yang sama persis, tanpa celah. Rasanya kayak terbuai indahnya elegi dalam senja untuk kesekian kali. Menemukan orang yang sama persis memiliki sifat yang sama sepertimu. Rasanya seperti bercermin dan mendapati dirimu di seberang sana dan mendapati ia hidup dan ia nyata. Mendapati bahwa ia-lah orang yang membangkitkan semua mimpi-mimpi konyolmu yang terlalu indah untuk diwujudkan. Menyadari bahwa bahunya adalah tempat pertama kau berlari dan menjatuhkan butir air mata kepedihan. Menyadari bahwa dia-lah yang selalu membuatmu tertawa karena kebodohannya. Menyadari bahwa tidak hanya kamulah satu-satunya manusia konyol yang ada di muka bumi ini. Menyadari bahwa radarmu menemukan orang yang s...

Abstrak

Yak, dari judulnya aja udah nggak jelas. Ini tuh abstrak, susah diungkapin pake kata-kata, susah juga diungkapin pake perbuatan. Nggak ngerti juga, kenapa selalu berada diposisi kayak gini. Udah berusaha buat ngehindar, tapi selalu aja semesta masa lalu bisa menemukan dan mengahncurkan semua benteng beton yang kokoh berdiri. Nggak ngerti harus gimana, nggak mau juga ngelepas yang di genggaman tangan, rasanya udah menyatu. Sejuk, kaya diterpa angin sepoi-sepoi. Rasanya nyaman, tanpa ada rasa getir. Tanpa ada? Atau belum? Aku juga nggak ngerti, sebulan. Nggak ngerti, semudah itu dia bisa masuk ke kehidupan aku dan mengkudeta rasa sakit yang lukanya menganga parah. Kadang, sempet mikir juga, apa semua ini hanya akan berhenti ditengah jalan lalu menghilang dimakan masa? Layaknya kopi panas yang sedang diseduh dan dirasa manisnya, yang tiba-tiba menjadi dingin dan pahit. Apa akan seperti itu kelak jadinya? Aku tidak pernah tau, dan tidak akan pernah bisa memprediksikan. Aku hanya menyayangi...

#1

Gambar
Tadi pagi sampe sore rapat raksasa anak-anak GF'12 di hutan biologi. As usual, walaupun abis ashar udah selesai tetep aja pulang ke rumah sore. Dan itu juga masih ada beberapa anak-anak yang ngerjain pembagian tutgas bonceng-membonceng buat ke museum merapi rabu besok, nah karena aku sama Tangguh selo abis, kita foto-foto sampe persis 100 foto -_- tapi tetep aja yang bagus itu langka banget :| dan ini beberapa yang lolos uji kelayakan diunggah.

Ha-Ha

Terkadang bertahan dalam pesakitan itu menyesakkan. Namun jauh lebih menyenangkan daripada harus kehilangan. Apakah benar? Bukankah terkadang kehilangan lebih menyenangkan daripada harus mengorbankan semuanya dan mendapati dirimu terkhianati? Aku memang tidak layak pandang. Aku bukan wanita dengan fashion ter-update. Aku bukan wanita dengan sepatu wedges atau heels-nya. Aku bukan wanita yang selalu wangi parfum merk ternama di setiap harinya. Aku bukan wanita yang bisa dibanggakan. Aku bukan wanita yang menggilai dress ataupun hal-hal feminim lainnya. Aku hanya wanita dengan fashion yang nyaman bagiku. Aku hanya wanita dengan sepatu lusuhku. Aku hanya wanita yang selalu merepotkan. Aku hanya wanita yang selalu memakai bedak bayi di pagi hari. Dan aku wanita yang menggilai hal berbau alam. Aku bukan wanita yang kau impikan. Aku bukan pujaan. Aku hannya wanita yang sedang menumpah ruahkan kata di lapak ini. Aku sadar, bukan aku yang harusnya bersama lelaki sepertimu. Tetapi harusnya sala...

Sendu

Kali ini kisahnya lebih sendu. Lebih menggugah rasa ingin tahu. Apalagi yang ada dibalik semua cerita tangis ini. Aku masih hampa seperti sebelumnya. Masih kebas dihantam rasa sakit. Masih nanar menatap pada kaca. Kebas. Rasanya mau dijatuhkan beribu kali lagi dengan cara yang sama aku masih kuat bertahan. Masih memberimu kesempatan untuk menyambut lambaian tanganku yang masih tertuju padamu. Namun, semua itu rasanya semakin sia-sia. Seperti menggantang asap. Seperti menuliskan keinginanku di atas air. Sia-sia. Rasanya seperti kata cinta yang pernah terucap hanyalah pemanis. Hanyalah untaian kata yang sengaja diucapkan dengan merdu. Seolah itu adalah nada yang harmoni pengantar tidur. Rasanya aku tak bisa lagi merasa-rasa apapun. Rasaku telah mati karenamu. Dan rasaku sudah enggan untuk mengingat semua. Aku memang jahat. Memang. Tapi setidaknya aku, masih menyimpan sedikit tentangmu. Belum tergantikan, tidak sepertimu. Yang sudah menggantikanku. Tentu saja.

Dihantam Sunyi

Aku masih menangis malam ini. Membiarkan dingin membungkus erat tubuhku. Membiarkan tawa bersembunyi dariku. Aku tau, selalu tau hal ini akan terjadi. Karena aku tau ini takdirku. Takdir kita. Kali ini sunyi memakan semua yang ada. Termasuk kenangan kita. Yang lalu-lalu. Masihkah terasa? Atau masihkah akan sama seperti yang lalu misalkan itu beberapa tahun ke depan? Yakinkah? Atau hilangkah itu? Menguap dengan cepat tanpa terhenti? Aku masih berada di persimpangan, menunggu kabut turun agar aku bisa melangkah kemana arah yang kuambil. Jurang bebatuan ataukah jurang tak berdasar. Aku masih diam, hatiku belur dihantam sunyi. Tawaku kering dihisap tangis. Dan cintaku mati dibunuh kata-kata.

Masih?

Rasanya letih. Aku baru saja melepaskan sejuta asa tentang rindu yang tertahan selama ini. Mungkin rinduku tak akan pernah sampai atau berbalas. Rinduku sendiri sudah lupa arah tujuannya. Apa aku harus menjadi udara yang selalu kau jamah? Agar rindu ini mengingat kembali arah pulangnya? Agar rindu ini kembali menapak ke hatimu? Atau haruskah memang rindu ini didiamkan sampai ia benar-benar lupa dan menolak untuk ingat? Ketika ia menolak untuk ingat, ketika itu pula doaku terputus untukmu. Dan ketika hal itu terjadi, aku tidak yakin aku masih benar-benar hidup.

Childhood

Jadi inget dulu jaman kecil. Waktu SD. Masih di lubuk linggau, Palembang. Temen sebangku, Wulan tanya gini "Put, kalo kamu punya uang 1 milyar mau buat apa?". "Lah kalo kamu apa?". "Aku mau beli banyak mainan, mau jalan-jalan, beli ini itu. Kamu apa?". "Pengen bikin panti asuhan, sama panti jompo". "Lho kenapa? Nggak sayang?". "Enggak, kasihan liat mereka nggak ke-urus gitu. Kan aku bisa pinjem kamu mainannya?"."Iya ya, ntar kita main bareng-bareng ya"."Iyaaa". Haha jaman kecil. Udah bertahun-tahun yang lalu. Nggak tau kenapa gitu bisa ngomong gitu. Yah, semoga jadi kenyataan suatu saat nanti. Setidaknya bisa berguna bagi orang lain. Bisa membantu, walaupun nggak seberapa.

Hidup itu mampir.

Pulang buber. Berempat. Dyff. Selalu. Habis mbalap naik vespa ngejer jam 5. Makan porsi kuli. Kenyang sampe nggak bisa ndegek. Cari tempat buat sholat. Musholla penuh. Jadi kabur ke masjid SMA11. Sholat. Bertiga sama yusri sama dara. Jadi imam. Cari pahala banyak, berjamaah. Selesai doa. Bantu iyus nglepas ikatan tali pati di mukena. Terus firman manggil-manggil. Ternyata dia mau cerita. Ada bapak-bapak juga abis sholat. Cerita ke dia, habis kena musibah. Dibobol maling. Nggak punya apa-apa lagi. Mau pulang ke Malang. Disini nggak tau harus apa lagi. Tapi cuma punya duit 2 ribu. Nggak tega. Rasanya pengen nangis. Selama ini cuma ngeliat ke atas terus. Cuma mikirin diri sendiri terus. Kurang bersyukur sama Tuhan. Padahal rasa bahagianya udah ngumpul menuhin hati. Padahal yang lain, yang kurang juga bisa bersyukur. Bisa bahagia walaupun nggak dalam kemewahan. Jadi sadar, hidup itu cuma mampir. Cuma bentar. Mampir, terserah mau ngapain aja. Mau peduli atau egois. Contohnya ya bapak itu ta...

BLAM!

Yah kali ini dirasuk pedih yang hebat. Tidak, tidak lagi dibawah hujan seperti dua tahun lalu. Tidak, tidak lagi nikotin. Ah tidak atau belum? Masihkah aku harus mencari lagi pemantik usang yang terlupa itu. Berusaha mengingat rasanya lagi berusaha mengingat asapnya lagi. Yang membawa kelam lagi. Aku memang berjanji untuk berhenti, tapi tak berjanji untuk tidak mengulangi, bukan? Ah, kenangan itu. Selalu membungkam tawaku saat sendiri. Selalu menikmati sedih yang memberontak. Kali ini yang ada hanyalah aku dan diam. Sepi. Mengingatkanku pada sekarat yang tak berujung. Menenggelamkanku pada sesak yang tak berakhir. Rasanya klise. Ah tidak, rasanya terlempar jauh ke padang pasir yang tidak berpenghuni. Sendirian. Entah sampai kapan. Mungkin sampai nikotin itu mulai menggerogoti dan menetap disini. Di nafasku. Dan di hidupku. BLAM! Dan nanti kisah ini akan berakhir sendirinya. Tanpa ampun. Merasuk mengahncurkan apa saja yang dilihatnya dan dihadapinya.
Ini rasanya kayak ngulang yang dulu-dulu. Kayak ngulang film yang sama dengan alur yang sama. Nggak pernah nggak ngenes. Nggak pernah juga nggak ngilu. Nggak semua tau, nggak semua juga mau tau. Yang tau ya cuman aku. Yang tau ya cuman Tuhan. Jam wekerku diambil lagi. Kalo dulu diambilnya pas pertengahan. Mau gimana-gimana ya jadi gimana. Kalo yang ini aku puasa aja belom. Ngga pernah ngerti kenapa nggak dikasih satu pandangan. Satu cara berfikir jadi nggak bentrok. Jadi nggak ada kesempatan buat diambil gini jam wekernya. Nggak ngerti. Bener-bener nggak ngerti. Butuh alarm hp sementara kayaknya. Biar meyakinkanku melewati sampe akhir. Terus finish. Terus terus.. Amnesia.

Mau dikasih judul apa?

Postingan ini mau dikasih judul apa? Nggak tau apa deh. Mau posting apa? Nggak tau juga deh. Mau curhat apa? Nggak tau juga deh. Tujuanmu buka blog apa? Nggak tau juga deh. Kamu kok apa-apa nggak tau? Yoben to, rasah iyik. Seng nggak tau siapa? Aku to? Kenapa ribut. Kurang lebih itu gejolak yang menampar hati saya berulang kali. Entahlah. Tuhan memang tidak ingin aku mempunyai jam weker disaat puasa mungkin, belum saatnya. Lalu kapan? Jam weker terakhirku ya 2 tahun yang lalu. Terus sekarang jam wekernya yang dulu itu udah hilang. Nggak akan balik lagi. Nah yang ini? Mau dibuat juga nggak balik lagi? Tuhan kok gitu? :( aku kan nggak nakalin siapa-siapa. Aku kan cuma minta jam weker. Kok cuman dikasih sebentar? Tuhan kenapa?

#1

Pikirannya jauh pergi ke masa-masa lalu. Rasanya energinya telah habis terkuras ketika ia kembali ke masa lalu dan menelusur apa kesalahannya. "Ah, tidak ada yang salah sepertinya" desisnya pelan seraya mengutuk dirinya sendiri. Ia masih menerawang jauh menatap ke jalanan yang padat merayap walau tengah hujan lebat seperti ini. Salsa mengenyahkan tubuhnya ke jok mobil di belakangnya, berharap hal itu bisa membawanya kembali ke rumah dalam sekejap. Lagi-lagi sedan hitam di belakang mobilnya membunyikan klakson, seolah memaksanya untuk maju. "Ah, diamlah! Jalanan memang macet, sabar sedikit kenapa sih?" umpatnya kesal lalu ikut-ikutan melakukan hal yang sama, membunyikan klakson agar mobil di depannya maju paling tidak beberapa meter. Jakarta memang payah akhir-akhir ini, hujan dan banjir dimana-mana. Dan bagusnya lagi, untuk ke kantor ataupun ke rumahnya, ia harus melewati daerah yang rawan banjir. Biasanya saat terjebak macet seperti ini, ia akan langsung menelepon ...

Voila!

Voila! Punya banyak banget ide buat dituangkan jadi novel, akhirnya. Dan masih terus berusaha membuatnya menjadi nyata. Semoga Ramadhan kali ini semua tuntas dan bisa menelurkan satu buah novel yang bagus :")

Diam

Kali ini aku berhenti menatap matahari. Semakin lama cahayanya semakin menyakitkan. Aku terdiam, masih terasa bau anyir darah di ulu hatiku. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi sebelum ini. Aku memilih bungkam mengikuti alur yang ada. Menyenangkan Ia, membiarkannya hidup semakin tergantung pada orang lain. Aku hanyalah tokoh protagonis yang masih sering dipertanyakan keberadaannya. Walaupun itu sudah sebulan yang lalu. Aku tidak mampu membeli banyak kata atau kalimat hanya untuk melayangkan pembelaanku. Ini bukan kasus meja hijau, ini bukan kasus dimana kita perlu membayar kalimat untuk membela. Karena itu aku hanya ingin diam. Mendiamkan semua ini, dan selalu berharap kelak rasa getirnya akan ikut terbawa arus hingga jauh. Hingga hilang bersama sepi. Karena getir ini adalah luka, adalah anyir darah yang tidak pernah hilang. Dan karena getir inilah, aku mengingatmu. Dan akan selalu mengingatmu, kemanapun kamu berjalan. Walaupun itu bertolak belakang denganku, aku masih punya seribu m...

Bestfriends

Yang namanya sahabat itu nggak akan terus nuntut. Yang namanya sahabat itu nggak akan terus-terusan minta dimengerti. Yang namanya sahabat itu nggak pernah mau maksain kehendaknya. Dan yang namanya sahabat itu nggak pernah ngelarang sahabatnya untuk temenan sama yang lain. Dan yang namanya sahabat itu harusnya nggak ngekang. Belajarlah mengerti dari masalah-masalahmu. Belajarlah menghargai dari perpisahan yang pernah ada. Dan belajarlah ketulusan ketika dia masih mau menerimamu lagi, walaupun saat itu kamu sudah pernah menggoreskan luka di hatinya. Belajarlah untuk tidak mengabaikannya ketika ia membuatmu merasa nyaman. Dan belajarlah tidak menuntut ketika dia menerimamu apa adanya, dengan segala kelebiham ataupun kekuranganmu.

Hey July!

Whoaaaaaa lama banget nggak nge-post. Abis balik ke tanah kelahiran di Bangka sana. Jadi bagpacker sejati B) berangkat pulang sendiri semua haha. Cuman seminggu disana, bentar banget sih, tapi kalo lebih lama juga tambah nggak kuat. Pulang selasa dan tadi udah melayang entah kemana. Well udah bulan Juli aja. Harapannya nggak muluk-muluk kok. Cuman selalu berikan yang terbaik umtukku, Tuhan. Apapun itu :)

Musimku

Badai. Kali ini sedang musim badai. Aku menengok ke garis horizon yang tak berujung. Tidak bersahabat. Ia memalingkan muka dariku. Ah mungkin ia belum bisa menerima kalau kini aku tidak lagi ada di sisinya. Ia kembali menggeram, menghentak lamunan. Memberi pertanda badai itu segera datang. Aku terdiam, semakin mempererat genggamanku pada kekasihku. Garis khatulistiwa yang hangat. Hujan. Tangisku pecah dibawah hujan. Bukan. Bukan dibawah, tetapi di dalam. Badai itu memporak-porandakan hatiku. Membuat lubang besar di hatiku. Mengacaukan semua rencanaku dengan semesta. Membuat Tuhan murka. Tangisku tertahan. Amarahku bergejolak. Dan rasa benci mulai menjalari seluruh urat nadiku. Kemarau. Nah! Musim ini akhirnya datang. Menandakan seluruh air mataku telah habis dibuatnya. Kali ini Tuhan tidak mau tau lagi apa keluh mereka. Tuhan sedang menjalankan keadilan. Dan seluruh malaikat mematuhinya. Tidak memanjakannya lagi. Salju. Putih. Dimana-mana war...

Make it simple

Make it simple. Terinspirasi abis baca blognya firman. Oke hidup itu emang kadang nggak se-simple yang kita pikirkan, tapi juga nggak se-rumit yang kita bayangin juga. Itu relatif, tergantung pemilihan individu masing-masing sebenarnya. Yang simple itu bahagia. Asal banyak bersyukur aja, sama ikhlas ngejalanin hidup. Hidup itu pengorbanan, pengorbanan gimana kita bisa hidup damai, tentram, ayem, bahagia. Kuncinya di kita kok, kalo kita mikir kita mau bahagia ya kita bahagia apapun keadaannya. Walaupun terkadang kebahagiaan yang harusnya milik kita harus hilang begitu aja di depan mata kita. Kayak misalnya kita udah jauh-jauh jalan buat beli es krim di supermarket dan ketika sampe sana ternyata es krimnya tinggal satu dan itu udah diambil orang. Rasanya sih sedih, iya sedih. Sama aja hal-nya kayak misal kita mau ngomong sayang ke orang yang selama ini kita sayangin, tapi ternyata dia udah nemuin pengisi hatinya yang ternyata bukan kita. Namun, kembali lagi ke atas, apapun keadaannya kit...

Another love story

Cerita cinta yang lain, mungkin tak berbeda dan mungkin tak serupa. Cerita cinta yang lain, mungkin plot yang sama, atau mungkin jalan cerita yang sama. Cerita cinta yang lain tak pernah dengan orang yang sama. Tidak pernah jatuh di tempat yang sama untuk ke-sekian kali. Cerita cinta yang lain, terkadang tak pernah terfikir bagaimana dimulainya.Cerita cinta yang lain, tak pernah tau bagaimana itu terjadi. Dan cerita cinta yang lain, selalu punya caranya sendiri untuk membahagiakan. Kalaupun belum bertemu cerita cinta yang lain, setidaknya bersabarlah. Karena cinta sedang berada di jalan menuju hatimu, tentu saja dengan plot dan ending-nya yang indah. Cerita cinta yang lain, selalu datang dengan peran antagonis yang menyerang, siapkan amunisimu. Bangun benteng terkokoh di hatimu, jangan mau kalah dengan antagonis-nya! Karena di cerita cinta yang lain, kamulah ending-nya. Kamu, dan cintamu.

Late Brrrrday!

Gambar
Ini postinganya harusnya udah dari april kemarin abis UN tapi nggak sempet-sempet nge-posting. Late brrday yang seru! Ulang tahunku sama Firmansyah digabungin, secara kita ulang tahunnya jejer. Cuma beda setahun. Dan di foto nya ini mukaku masih bonyok bonyok gara gara kecelakaan pas tanggal 12 April ;;)

3

Gambar
Ah iya ada juga nih foto-foto yang nuntut buat di-eksis-kan :-) Sebenernya ini kurang Sita, Firman sama Subi