Musimku
Badai.
Kali ini sedang musim badai. Aku menengok ke garis horizon
yang tak berujung.
Tidak bersahabat. Ia memalingkan muka dariku.
Ah mungkin ia belum bisa menerima kalau kini aku tidak lagi
ada di sisinya.
Ia kembali menggeram, menghentak lamunan. Memberi pertanda
badai itu segera datang.
Aku terdiam, semakin mempererat genggamanku pada kekasihku.
Garis khatulistiwa yang hangat.
Hujan.
Tangisku pecah dibawah hujan. Bukan. Bukan dibawah, tetapi
di dalam.
Badai itu memporak-porandakan hatiku. Membuat lubang besar
di hatiku.
Mengacaukan semua rencanaku dengan semesta. Membuat Tuhan
murka.
Tangisku tertahan. Amarahku bergejolak. Dan rasa benci mulai
menjalari seluruh urat nadiku.
Kemarau.
Nah! Musim ini akhirnya datang. Menandakan seluruh air
mataku telah habis dibuatnya.
Kali ini Tuhan tidak mau tau lagi apa keluh mereka. Tuhan
sedang menjalankan keadilan.
Dan seluruh malaikat mematuhinya. Tidak memanjakannya lagi.
Salju.
Putih. Dimana-mana warna putih. Aku berlari kesana kemari
dengan gaun putih.
Berusaha mengejar apa yang harusnya aku capai. Tuhan
tersenyum melihatku.
Yang akhirnya bisa tersenyum kembali. Yes, time heals.
Kali ini aku berkedip pada Tuhan. Memastikan aku baik-baik
saja.
Komentar