Sendu

Sendu. Judul kali ini sendu. Aku masih duduk diam disitu. Menatap nanar ke tanah. Aku diam, menenggelamkan dirinya dalam pikirannya sendiri. Sesungguhnya aku lelah, lelah untuk terus berlari dan melawan. Aku ingin pasrah pada takdir. Belajar merelakan apa yang bukan menjadi penghujungnya. Namun, lagi-lagi cinta itu datang dan mengingatkan alasanku bertahan. Bukan wanita itu yang menentukan pilihannya, tetapi lelaki itu, kekasihku-lah yang menentukannya. Aku mungkin tidaklah terlalu sempurna, ataupun anggun dibandingkan wanita itu. Aku kalah, kalah telak mungkin. Mungkin itu maunya. Tapi setidaknya aku kalah dengan ikhlas dan rela. Biarlah aku kalah dalam hal kesempurnaan. Tapi kali ini, cintaku pada lelaki itu melebihi kamu. Ingat peribahasa "Air tenang menghanyutkan"? Itulah aku sekarang. Tidak seperti "Air beriak tanda tak dalam". Tidak ada yang menyangka kalau akhirnya kan seperti ini. Bahwa hatiku jatuh hati dan memilihnya, menjadikannya pengisi hariku. Menjadikannya sibiran tulangku. Aku mencintainya, lebih dari yang kau kira.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Usaha

Diam-diam

aku benci