Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

Waktu

Kita hanya butuh waktu.. Untuk membiasakan semua ini, untuk terbiasa. Aku tau, dan seharusnya kau juga tau segala konsekuensi yang kita genggam. Aku berani mencintaimu sama artinya aku berani bersama kesepian. Aku kira aku bisa, tapi aku kalah..
I'm not single and I'm not taken. I'm simply on reserve for the one that has my heart! #DamnItsTrue

The End

Enough. Super duper enough. You are not my mood booster. You are not my mood booster You are not my mood booster. Setidaknya aku harus mengulangi kalimat itu sebanyak sepuluh kalu tiap satu jam. Untuk apa? Untuk memastikan aku tidak lagi melakukan hal bodoh. Tidak lagi berharap padamu. Malam ini, 6 maret 2011. Di bawah guyuran hujan diatas atap rumahku. Aku. Memutuskan tidak lagi akan mengingat tentangmu, tidak dengan hujan ataupun rintiknya. Sekian. Dan. Terima kasih.
Ini bukan galau area. Siapa bilang? Siapa berani bilang? Berani satu kata lagi aku tantang kau adu makan cabe denganku.

Konsisten di dalam konsisten

Konsisten dalam konsisten = konsisten pangkat dua. Rumit? Begitulah adanya. Bisa kau anggap rumit, bisa kau anggap mudah. Tergantung darimana dan bagaimana kau melihatnya. Konsisten di dalam konsisten itu rasanya menyesakkan. Bagaimana tidak? Menjalankan konsisten biasa saja aku masih tertatih, bagaimana dengan konsisten pangkat dua? Aku mungkin hanya jalan di tempat. Mungkin. Mungkin. Namun, mungkin juga tidak. Mungkin aku malah bisa berlari mendahuluimu? Mendahului rasa sakit ini? Tergantung niat. N I A T. Niat. Kalau niatku kuat aku pasti bisa. Bisa menghalau semua hal yang mengenaskan ini. Termasuk kamu. "Kalau kamu yakin sama dia, ya kejar terus Tapi kalai enggak ya udah let it go aja. It depends on you. Pilihan ada di kamu fa" said my big bro Bintang Ilham Avicena Apa aku yakin sama kamu? Apa kamu membuatku yakin padamu? Aku yakin kamu punya jawabannya tanpa harus aku bisikkan. Dan itu alasan kenapa aku menjadi seperti ini
Jangan harap aku kan berharap lagi padamu, karena aku sudah mengerti maksudmu. Tidak akan ada lagi galau untukmu, tidak. Tidak malam ini dan tidak dengan malam-malam setelahnya. Karena hidupku terlalu berharga kalau hanya untuk meratapi semua ini. Hidup ini indah tanpamu, namun mungkin bisa lebih indah bila denganmu. Tapi,tanpamu juga tak masalah.

Mimpi Buruk

Konsisten? Huh masih kerat kaitannya konsisten dengan aku. Aku pernah berkata padamu aku akan berusaha membuatmu suka padaku. Namun, akhir-akhir ini aku berfikir aku salah menyanggupi hal itu. Yak salah besar, kenapa salah? Ya salah karena aku berusaha menaklukan orang yang sama sekali tidak berharap untuk ditaklukan. Jadi intinya selama ini cuma buat sebuah omong kosong. Bullshit! Konsisten. Aku nggak mau lagi berharap sama kamu, dan aku nggak mau lagi berusaha menaklukan hatimu dan harimu. Enough. Kamu nggak akan merasa terganggu dengan gangguanku lagi. Aku tidak akan repot-repot mengganggumu lagi, memberimu semangat lagi, dan mengingatkanmu untuk belajar lagi. Ini pilihanmu, dan ini konsekuensi yang aku ambil untuk mengimbangi pilihanmu. Selamat berjuang untuk menjaga masa lalumu yang masih terlalu berharga untuk hanya kau simpan sebagai pengobat lara.

Konsisten satu hati

Kali ini konsisten yang lain lagi, tapi tetap sama. Berat dan sulit. Konsisten satu hati? Bisakah aku? Mampukah aku? Aku HARUS bisa dan PASTI bisa. Ini juga konsisten tentangmu, iya bukan mood-booster-ku ? Konsisten hatiku untuk 1 hati sampai kau benar-benar mengabaikanku. Aku harap kau tidak akan mengabaikanku. Aku harap... Kalaupun harapan ini tak sesuai dengan kenyataan, aku takkan menyesal.

Be honest

Jujur saja,katakan apa yang mau kau katakan. Lakukan apa yang mau kau lakukan. Kalau mau pergi, pergilah sesuka hatimu. Kalau mau tinggal, tinggalah selama kau mau. Kau mau apa lagi dariku? Ambil saja kalau itu membuatmu menjadi yang terhebat. Kalau itu membuatmu jauh lebih bersinar dan jauh menjadi yang teratas. Mau tidak menganggapku? Silahkan lakukan. Aku cuma bisa diam. Iya diam, dan mengamati gerak-gerikmu. Tenang saja sobat, aku tidak meninggalkanmu. Aku masih di belakangmu, teruslah berjalan ke depan, teus lakukan sesuka hatimu. Aku menunggu waktu, untuk jujur padamu. Dan itu bukan sekarang.

Changed

Has changed, right? I just read someone's blog and it hurts me. Great. Berubah? Perubahan? Apakah postingan ini akan membahas itu? Jelas, dan bahasannya tidak hanya itu, melebar ke semua aspek yang mungkin ikut terseret. Baca dan nikmati pemikiranku. Sorry, for my bad act when i was your best friend. Maaf. Dan nyuwun pangapunten, sebelumnya. Actually, i love you, i need you to be always in my side, to make me stronger to face the world, to give me inspirations, motivations, and to be my guard. Jujur, sakit. Iya, sakit. Sakit ya sakit. Apa kurang penggambaranku tentang bagaimana rasanya?. Pernah berfikir kenapa? Apa pencetusnya? Atau langsung menghakimiku tanpa mendata ulang semua yang ada? Kuharap kau mendata ulang baru kau memutuskan perkaranya. Kenapa kau tidak bisa menjadi sedikit peka? Itu akan sangat sangat membantuku. Kenapa kau tidak membuat daftar kecil tentang sifat-sifatmu? Kamu menyebalkan. Begitupula denganku, tapi perbedaan kita ternyata lebih dalam. Lebih menyakitka...

Konsisten, bor

Konsisten? Umm konsisten ya? Harus? Gak bisa ya buat ditunda? Konsisten itu berat dan memiliki konsekuensi. Aku emang kayaknya masih kayak anak kecil banget. Totally, i/m not a girl but i'm a child. Aku pengen bisa buat nggak terus-terusan jadi anak kecil gini. Aku pengen bisa buat nggak ngeluh. That's the point. Aku tukang ngeluh = kayak anak kecil. Beberapa hari ini udah mikirin apa caranya biar nggak jadi tukang ngeluh, dan ada 1 solusi yang mungkin bisa berhasil. "konsisten" by @fatfirms . Akhirnya aku berani ambil resiko itu tanpa tau apa yang bakal terjadi. Dan ternyata itu berat, dan aku semakin jadi tukang ngeluh, dan jadi orang yang nggak bisa diandalkan. Iya nggak? Galau karena konsisten? Lucu. Padahal niatan awalnya buat nggak ngeluh, kok jadi gitu sih? Semaleman nggalau, nyampah dengan kalimat-kalimat ngeluh. Ergh enough. Aku nggak mau ngulangin lagi. Konsisten. Konsisten buat aku nggak cuma megang omongan dengan teguh, tapi juga tegas sama diri sendiri d...