Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2012

#1

Gambar
Tadi pagi sampe sore rapat raksasa anak-anak GF'12 di hutan biologi. As usual, walaupun abis ashar udah selesai tetep aja pulang ke rumah sore. Dan itu juga masih ada beberapa anak-anak yang ngerjain pembagian tutgas bonceng-membonceng buat ke museum merapi rabu besok, nah karena aku sama Tangguh selo abis, kita foto-foto sampe persis 100 foto -_- tapi tetep aja yang bagus itu langka banget :| dan ini beberapa yang lolos uji kelayakan diunggah.

Ha-Ha

Terkadang bertahan dalam pesakitan itu menyesakkan. Namun jauh lebih menyenangkan daripada harus kehilangan. Apakah benar? Bukankah terkadang kehilangan lebih menyenangkan daripada harus mengorbankan semuanya dan mendapati dirimu terkhianati? Aku memang tidak layak pandang. Aku bukan wanita dengan fashion ter-update. Aku bukan wanita dengan sepatu wedges atau heels-nya. Aku bukan wanita yang selalu wangi parfum merk ternama di setiap harinya. Aku bukan wanita yang bisa dibanggakan. Aku bukan wanita yang menggilai dress ataupun hal-hal feminim lainnya. Aku hanya wanita dengan fashion yang nyaman bagiku. Aku hanya wanita dengan sepatu lusuhku. Aku hanya wanita yang selalu merepotkan. Aku hanya wanita yang selalu memakai bedak bayi di pagi hari. Dan aku wanita yang menggilai hal berbau alam. Aku bukan wanita yang kau impikan. Aku bukan pujaan. Aku hannya wanita yang sedang menumpah ruahkan kata di lapak ini. Aku sadar, bukan aku yang harusnya bersama lelaki sepertimu. Tetapi harusnya sala...

Sendu

Kali ini kisahnya lebih sendu. Lebih menggugah rasa ingin tahu. Apalagi yang ada dibalik semua cerita tangis ini. Aku masih hampa seperti sebelumnya. Masih kebas dihantam rasa sakit. Masih nanar menatap pada kaca. Kebas. Rasanya mau dijatuhkan beribu kali lagi dengan cara yang sama aku masih kuat bertahan. Masih memberimu kesempatan untuk menyambut lambaian tanganku yang masih tertuju padamu. Namun, semua itu rasanya semakin sia-sia. Seperti menggantang asap. Seperti menuliskan keinginanku di atas air. Sia-sia. Rasanya seperti kata cinta yang pernah terucap hanyalah pemanis. Hanyalah untaian kata yang sengaja diucapkan dengan merdu. Seolah itu adalah nada yang harmoni pengantar tidur. Rasanya aku tak bisa lagi merasa-rasa apapun. Rasaku telah mati karenamu. Dan rasaku sudah enggan untuk mengingat semua. Aku memang jahat. Memang. Tapi setidaknya aku, masih menyimpan sedikit tentangmu. Belum tergantikan, tidak sepertimu. Yang sudah menggantikanku. Tentu saja.