Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

nggerus

Malam ini bulan bersinar dengan indahnya, cahanya yang kemilau mengguyur parasku. Namun sayang, bulan seindah itu hanya kunikmati untukku sendiri. Iya, aku sendiri, masih duduk di bangku lama kita seraya menatapi bulan, berharap bulan itu kan tersenyum dan mengerti perasaanku tentang dirimu, yang semakin hari semakin menjauh. Aku menangis, meneteskan air mata yang aku tau ini semua sia-sia. Mau sebanyak apapun aku menangis, kamu tidak akan pernah menjadi seperti yang dulu. Aku melihat ke display HP ku, kosong, tanpa ada namamu yang menghiasi display itu, seperti 2 minggu yang lalu. Aku bungkam, mulutku tak lagi bisa meronta meraung seperti biasa. Percuma, aku tau kita hanya akan jadi biasa seperti ini, bukan lagi seperti yang dulu. Kita saling berakting tidak saling mengenal, kita berakting dengan bagusnya hingga hal itu mampu menusuk hatiku dan menghancurkannya. Aku ingin berteriak dan mendatangimu, namun hembus angin malan menahanku untuk tetap disini. Aku tau aku lebih baik untuk be...

hujan part 2

Senja ini hujan deras turun mencumbu tanah kering yang tandus, melegakan kerinduan tanah akan kehadirannya. Seperti hal nya hujan mengobati rasa rinduku padamu. Aku merasakan kehadiranmu di sisiku. Aku tau kau disana juga merindukanku, pastinya. Kau rindu pelukanku, kau rindu ciumanku. Dan kau rindu senyumku. Senja waktu itu, kita selalu duduk berdua memandangi senja yang tenggelam. Duduk di bangku tua itu, sambil menggenggam erat satu sama lain. Seolah kita telah menggenggam dunia dan isinya. Kita tersenyum satu sama lain, tidak pernah menyangka akan berakhir seperti ini. Itu 4 tahun yang lalu, disaat kita masih bisa menaklukan ego masing masing. Itu disaat kita belum mulai saling mendiamkan, seperti sekarang. Kau sibuk dengan duniamu, begitu pula aku. Aku sadar, kau sibuk bukan dengan wanita lain. Kau sibuk dengan usahamu meraih asamu. Aku tau kau lelah, kita sama-sama lelah dan merasa tersakiti, tapi apa salahnya kau bagikan sedikit saja bebanmu di pundakku ini, pundakku memang tida...

hujan part 1

Dan lagi malam ini aku masih memikirkanmu, berusaha merengguk sesuatu yang amat menyakitkan bagiku. Aku merindukanmu, seperti tanah tandus yang merindu akan cumbu rintik hujan lebat jatuh diatasnya. Aku kan selalu setia menunggumu seperti bulan yang selalu setia memberikan cahayanya pada bumi ini bergantian dengan matahari, tanpa kenal lelah. Walaupun mereka hanya bertemu saat gerhana tiba, saat bumi menutup mata memberikan sedikit waktu pada bulan dan matahari. Namun mereka tidak pernah mengeluh, mereka rela, karena mereka benar-benar tulus satu sama lain. Kau dulu yang membisikkan tentang cerita itu, menenangkan hatiku yang gundah saat aku tau kamu akan pergi jauh meninggalkanku. Aku tau, kamu pergi bukan karena membenciku, tetapi karena kamu memang harus pergi. Aku tau kita sama sama berat merenggang satu sama lain. Aku juga tau mungkin, rasa cintamu akan mulai terkikis sedikit demi sedikit. Perlahan tapi pasti aku tau hal itu akan terjadi. Namun, tak peduli seberapapun itu, aku mas...

jarak

Hujan turun dengan deras, membuatku mencium aroma bau tanah yang kental kurasakan dikala hujan. Namun kali ini beda, aku menikmati hujan ini sendiri sambil menelan capuccino kesukaan kita seperti kemarin-kemarin, sebelum kau pergi meninggalkanku di malam itu. Aku berusaha mengiris hatiku kembali, dengan cara mengingat semua tentangmu. Mengingat bagaimana kita berdua bersama saling mengecup satu sama lain. Mengingat gagahnya kamu saat kamu membelaku. Semua terasa pahit, dan menyakitkan. Seperti meneteskan air garam ke atas luka yang menganga lebar. Aku tak berjanji untuk tidak menggenangkan air mataku lagi untukmu, karena kamu memberikan luka yang sangat dalam di hatiku. Aku termenung, menerawang jauh ke langit gelap. Aku merindukan pelukmu saat hujan datang seperti ini. Aku merindukan kecupanmu di bawah hujan, seperti yang lalu-lalu. Aku merindukan genggaman erat tanganmu. Hujan terus turun hingga larut, menyenandungkan bunyi gemericik yang mendayu di hati. Aku berbaring, memikirkan te...

untitled #3

Kerongkonganku tercekat, rasa pahit merasukinya, membuatku tak bisa memanggilmu untuk kembali kepadaku Aku menangis sejadi-jadinya, kalau tidak menangis apa lagi? Aku bukanlah seorang pemberani sepertimu yang tak segan-segan menghantam kaca kalau kau mau, atau untuk menghancurkan cermin di kamarmu. Aku yang selalu mencintaimu sedari dulu, awal pertemuan kita, pertama kulihat senyum itu. Pertama aku melihatmu bermain-main dengan pemantik api itu. Aku terdiam, melingkarkan badanku menjadi seperti trenggiling di pojokan kamarku, menangisi kamu lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku menangis sembari playlist di handphoneku memainkan lagu kita dulu, lagu yang pernah kita senandungkan bersama saat matahari tenggelam, di pantai itu. Yang kini semua itu hanya... kenangan...

memudar

Aku masih terus berlari menyusuri lorong gelap ini, aku mencari ujungnya, lariku kupacu semakin kencang nafasku semakin memburu tak beraturan, aku berteriak namun tak ada suara yang keluar dari teriakanku kucoba lagi berteriak, memanggil namamu... Namun, lagi-lagi hanya jeritan tanpa suara yang muncul, aku menyerah. Aku berhenti berusaha memanggil namamu. Aku terus berlari, namun kali ini lariku semakin pelan dan lama kelamaan aku berhenti.. Aku berusaha melihat sekitarku dalam gelap ini, aku meraba berusaha menyentuh sesuatu. Namun, tak ada yang berhasil kurengkuh. Aku seperti berada di tengah ruangan yang luas, sunyi tak ada suara lain selain suara desah nafasku. Dan disini, dingin. Aku terdiam, lalu menangis.. Aku masih berusaha memanggil namamu, namun tak ada suara yang keluar dari mulutku.. Akhirnya aku duduk sembari memeluk lututku, dengan gigi yang bergetar menahan tangisku yang teramat hebat, aku teringat sebungkus rokok pemberianmu masih ada di saku jaketku.. Aku keluarkan dar...

lihat aku

lagi lagi malam ini aku duduk terpaku di pinggir jendela memandang jauh tak berbatas ke pekatnya malam, aku berusaha mencari bintang bintang yang pernah kau janjikan untukku, aku masih menantinya mencarinya sampai saat ini aku terdiam, seolah termakan hingar bingar kota malam ini beribu pertanyaan berlari berkejaran di dalam otakku semua adegan yang pernah kita lakukan (walau sebagian besarnya aku yang melakukan) bermain kembali seperti film yang diputar secara slow motion, perlahan ingatan tentangmu menusuk pikiranku, mengiris hatiku tipis tipis sejak awal pertemuan itu, tawamu yang berhasil menarik perhatianku aku mencintaimu, dan cinta ini tanpa syarat dan tuntutan aku bukanlah jaksa yang akan selalu menuntutmu dengan berbagai tuntutan yang kulayangkan padamu lihat aku, pahami apa yang aku rasa lihat usahaku untuk menaklukan angkuhmu yang terlampau tinggi itu AH! namun percuma, beribu kali aku berucap padamu semua hanya sia sia asa yang perlahan menipis, lalu hilang kamu masih teta...

benci yang mencandu

aku benci, lagi lagi aku benci saat aku berusaha menghapus air mataku yang selalu jatuh untukmu bersusah payah aku menjadikan hatiku ini hati batu yang tak bisa kau sakiti aku terdiam, menuduk, lalu berdiri menghadap kaca besar aku berkaca, memandang diri dari atas hingga bawah dan ternyata aku buruk rupa, aku tidak molek, tidak pandai bersolek pula sudah. lengakp. aku tau hasil akhirnya aku butuh banyak waktu untuk merebut hatimu (yang pastinya, sangat susah. aku sudah membuktikannya 10 bulan ini) aku benci ketika aku bangun di pagi hari dengan senyuman lebar, dan aku tersadar senyum itu karena kamu yang datang dalam mimpiku aku benci saat aku diam aku tiba tiba tersenyum sendiri, dan aku sadar itu lagi lagi karena kamu aku benci saat aku ingat siapa yang pernah menasehatiku untuk berhenti berkutat dengan banyak batang rokok, dan itu orangnya adalah kamu mimpi buruk yang selalu jadi candu di tubuhku setiap detiknya aku benci di saat aku harus belajar tentang caranya mengend...

aku mencintaimu dengan kebencian

aku benci ketika bertemu denganmu tubuhku harus gemetaran, dan lagi lagi jantungku berdetak 10kali lebih kencang aku benci ketika aku memandangmu dan aku harus menggigit bibir bawahku dengan keras, meyakinkan agar aku tak berteriak kesenangan aku benci ketika aku berpapasan denganmu, dan ingin menyapamu, namun tak sepatah katapun terucap, terlebih aku yakin kamu bisa mendengar detak jantungku aku benci ketika aku pulang aku harus mengambil jalan memutar hanya untuk melihatmu duduk dan berkelut dengan puntung rokok itu, seperti biasanya. melihat kamu dibalik gumpalan asap putih tipis. aku lebih benci lagi, aku tidak tau sampai kapan aku bisa menyimpan semua ini tanpa ada sedikitpun pengertian darimu? entah apa kamu mengerti tentang kebencian ini, atau.. kamu sudah mengerti, namun kamu tidak mau tau? aku harap pikiranku yang tadi salah iya salah, sesalah perasaanku ini padamu tetapi, jujur di saat aku bersedih hanya refleksimu dalam pikiran dan hatiku lah yang dapat menenangkanku. ...

nightmare

argh kamu datang lagi dan mengganggu semuanya, aku tuh udah bisa menghilangkan candu yang pernah kamu kasih ke aku. aku udah menjalani hidupku dengan biasa tanpa harus berusaha untuk selalu lewat depan kelasmu hanya untuk melihatmu dengan tekun menatap papan tulis dan mencatat tapi malam ini kamu datang kembali ke mimpiku, padahal kamu sudah tidak pernah datang selama ini di mimpiku kita duduk berjejeran, awalnya aku marah karena aku dapat tempat duduk di sampingmu, namun setelah itu kamu malah menceriterakan cerita tentang hatimu padaku, awalnya aku tidak mau mendengarkan bualanmu lagi, cukup sudah kamu membualiku dengan berjuta cerita indah namun ternyata kamu serius dengan ucapanmu, kamu berkata bahwa sebenanrnya kamu sudah mencintaiku sejak lama, namun kamu tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mendekatiku, aku terdiam, kamu merangkulku. aku hanya bisa terisak menangis mendengar apa yang kamu katakan. tanpa aku sadari aku juga mengatakan hal yang sama, candumu berhasil merasuk ...

kalo misal bisa dilahirin lagi

kalo bisa dilahirin lagi aku cuma minta satu deh yang beda sama diriku sekarang, yaitu .... nggak gampang emosi, tapi kok rasanya susah banget buat gak emosi, ketemu adek kelas yang ganjen langsung deh jadi emosi, padahal kan itu bukan urusanku, liat sinetron sama adekku kalo ada tokoh protagonis yang ditindas habis habisan pasti juga deh langsung merepet merepet meracau nggak jelas mau puasa, enggak puasa kok kayaknya sama aja ya :( tapi nyebelinnya lagi emosi nya itu cuma beberapa saat aja, ntar jug abalik ke wujud asli lagi dan setiap aku emosi pasti semua orang jadi korban kegalakanku, kasihan deh kalo diinget-inget tapi ntar kalo udah jinak lagi pasti langsung minta maaf sama temen temen yang jadi korban tadi apalagi kalo pas lagi patah hati, syndromnya pasti deh langsung nyebar dengan mudahnya kemana mana -_- kasihan, apalagi ery prawestya, temen deketku itu juga ntar kena deh semprotanku semoga bulan puasa ini aku tambah bisa ngatur emosiku, walaupun aku tau itu nggak akan bisa ...

hatiku mulut ember

akhirnya baca bukunya raditya dika, MMJ :) buku kontroversial antara aku dan mamen pertama baca tentang mencintai diam diam, yang berakhir dengan kata menerima, dan merelakan kalau mencintai diam diam berakhir dengan seperti itu, harusnya mencintai secara blak blakan tidak harus berakhir dengan kata kata seperti itu namun, sepertinya dewi fortuna tidak pernah singgah dan menaungiku dalam masalah cinta sesuatu yang dianggap tabu berdasarkan lazim dan ketidaklaziman aku selalu tidak bisa mencintai dalam diam, aku tidak tahan mencintai orang yang tidak mengetahui kalau aku mencintainya, apalagi orang tersebut tidak mengetahuiku(tambah hancur kalo itu) kadang aku berfikir kalau aku mencintai dalam diam, maka cinta itu akan menjadi obsesi (sudah terbukti pada seorang kakak kelasku yang kurang beruntung) mencintai secara blak blakan yang aku lakukan malah terkadang berujung sangat perih, sangat bayangkan, orang yan kamu cintai menjauhimu, mencacimu, melihatmu hanya dengan sebelah mata padaha...

maaf

aku terbangun di pagi buta dengan perasaan tak menentu aku merasakan ada yang hilang, namun aku belum tau itu apa aku membuka mataku melihat sekeliling, gelap, dan hanya kau sendiri disitu aku mencari, namun tak kunjung kutemukan aku mulai sadar, aku kehilangan sosokmu, aku kehilangan dirimu nafasku memburu, darah semakin deras mengalir keluar dari jantungku kamu hilang, entah kemana aku berlari keluar terus berlari hingga tanpa sadar aku terjatuh terperosok detak jantungku semakin tak beraturan nafasku terhenti dan BLAM! sebuah hentakan pelan di kepalaku membangunkanku ternyata itu hanya mimpi ketakutanku, tepatnya aku terlalu takut suatu saat kau akan menjauh dan meninggalkanku, sendiri setelah kamu mencanduku sekerat ini jangan pernah lakukan itu, kumohon jangan meninggalkanku karna aku sayang kamu kurnia rheza randy adinegara :")

aku benci

aku benci ketika menulis postingan ini aku selalu berulang kali melihat ke lcd HP ku hanya untuk memastikan smsku terkirim sampai ke tujuannya aku benci ketika aku langsung semangat mengambil HP saat bergetar, pertanda ada pesan baru yang kuterima, dari kamu aku benci ketika aku jatuh cinta lagi, dan aku berharap tinggi, tinggi dan semakin tinggi saat aku tidak ingat bagaimana lagi rasanya menapak tanah, karena aku telah terbang melayang aku benci saat aku harus menebak nebak ekspresimu di seberang sana saat membaca pesan dariku namun karena itu kamu berhasil mengobati luka di hatiku kamu berhasil membuatku tertawa lagi setelah apa yang pernah aku rasakan terima kasih kurnia rheza randy adinegara :)

awal

ketika menamatkan suatu kisah, pasti akan dimulainya kisah baru awal, aku sebenarnya sangat benci ketika harus memulai dari awal lagi harus melewati fase fase yang begitu membosankan aku benci ketika aku harus menangis menghabiskan berlembar lembar tisu untuk menangis aku benci ketika harus menolehkan wajah saat bertemu masa lalu aku benci ketika malam, aku selalu berkhayal tentang masa lalu aku benci ketika harus menahan sakit saat kamu mulai mendekati yang lain sukar memang berada di fase ini namun setelah fase itu adalah bagian favoritku fase dimana aku mulai membuka mataku dimana aku menyadari bahwa tidak hanya ada kamu saat aku tertawa mengenang semua tangisan yang pernah jatuh untukmu bodohnya aku, masih menangisimu padahal tak sepintaspun kau memikirkanku naif, arogan mungkin lebih cocok aku sadar aku harusnya bersyukur, aku tau semua tentangmu lebih awal sebelum aku mempercayai separuh lebih hidupku bersamamu :) nice selamat tinggal masa lalu aku pasti akan merindukanmu, merin...

tenggelam dimakan senja

aku tau kamu dengan mudahnya menyingkirkan aku dari hidupmu aku maklum, iya aku tau aku memang tak lebih dari mainan usang yang tak kau inginkan aku hanya wanita yang tidak sempurna, jauh dari kata itu namun satu yang tak kau tau, aku punya perasaan tidakkah kau berfikir bagaimana perasaan yang kurasa saat aku lihat foto itu hancur, kamu menghancurkannya hanya dalam beberapa menit semua yang kita rangkai, tepatnya aku rangkai hilang dimakan ombak ganas aku tak pernah sesakit itu aku telah mencoba bertahan namun, memang itu semua tak tertahankan aku berlari menjauh berlari kencang, lalu diam perlahan berhenti di heningnya malam tertunduk dan merenung memikirkan apa yang salah dari diriku ternyata, aku tak sesempurna dia dia yang hebat dia yang elok cantik jelita dia yang tinggi menjulang dengan rambut panjangnya yang terurai aku tau ini sakit, namun ini pelajaran bahwa hidup tidak selalu indah seperti apa yang aku pikirkan :)

tamat

lagi lagi kisah pilu itu terulang hal yang sama terjadi, kesekian kalinya lagi lagi aku tidak dianggap, diacuhkan, dan diabaikan aku seperti hanya sebuah mainan yang tak punya hati aku tak punya indera perasa aku yang selama ini selalu berusaha semampuku untuk tampil memukau di hadapanmu berharap hatimu sepenuhnya kau berikan padaku, namun aku salah ah sudahlah, kita telah sama sama tersakiti aku tersakiti akan sikapmu yang kerap membuatku meradang yang kerap membuatku terluka dan menangis kamu yang tak pernah ada dan mau untuk memberikan tenaga membelaku kamu yang tak pernah mau membiarkan hidungmu terhantam hanya untuk melindungiku aku tidak pernah mau menyalahkanmu aku sadar, semua ini tidaklah harus menjadi apa yang aku ingin walaupun aku selalu memenuhi apa yang kau ingin aku tau, memang seharusnya aku merenggangmu jauh kian jauh hingga tenggelam dimakan senja seperti kisah ini yang ditakdirkan padam, tertutup gelap malam

merenggang asa

aku tau ini semua memang tidak seharusnya pernah kita mulai ini jadi bumerang, terlebih untuk aku aku diserang oleh amunisiku yang tak pernah aku tahu tidak seharusnya, aku jatuh cinta padamu dan menaruh hati padamu jikalau saja aku tau akhirnya kan begini semua yang kita rangkai sedikit demi sedikit dengan iringan senyum tawa sekarang harus kita hancurkan dengan luapan emosi dan derai air mata aku serasa terhempas jatuh menuju lapisan bumi yang paling bawah inti bumi, panas, sangat panas hingga mampu menghancurkan semua tanpa terkecuali hatiku hatiku koyak, hancur, dan musnah seketika aku tidak mau menyalahkan, aku juga tidak mau berargumen panjang lebar hanya untuk mengkoarkan rasa yang kurasa iya aku sakit hati, iya aku patah hati namun, tidak aku tidak akan pernah menyerah untuk meraih kebahagiaan yang sudah disiapkan khusus untukku, oleh seseorang yang akan menjadi orang khusus di hidupku aku tau, aku tak lebih pantas untuk kau beri hati lebih pantas kau beri racun racun agar s...