Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2012

.

Stupid. Stupid. Udah niat bulat-bulat mau berusaha melupakan. Tapi yang ada kenapa jadi tidak terlupakan? "Kita bakalan bisa lupa sama orang yang kita sayang kalo kita udah nemuin orang lain yang kita sayang dan sayang juga sama kita, walaupun kita nggak sayang sama dia sesayang kita sama orang yang pertama"- Riri. Jleb. Jadi tambah mikir, apa iya gitu? Kalo dianalogikan nih yah: "Ibaratnya nih yah, kayak aku sm kamu diatas satu sampan yang sama.Tapi bedanya, yg ngedayung cuma aku. Kamu cuman asik liat pemandangannya.Tapi dengan liat pemandangan itu kamu jadi senyum dan bahagia. Sampe-sampe kamu ga sadar aku mulai kesusahan mendayung...Niatnya awal mau mutung terus nyebur aja gitu ke lautnya, tapi ketika liat kamu senyum liat pemandangan yg ada. Aku jadi enggan. Soalnya ternyata, bahagiaku itu ngeliat kamu senyum, walaupun itu bukan untuk aku, bukan karena aku, bukan bersamaku" Ngenes abis yak. Itu kode abis lho mas, haha. Eh kan nggak suka kode-kodean sih yak. Ya...

--

Barusan ngetweet ke Sita yang sebenernya tamparan buat diri sendiri. "mau sampai kapan ngadem-ngademin ati dengan keadaan yang jauh dari fakta?". Kayaknya selama ini pikiranku yang kebiasaan buat mikir positive jadi terlatih gitu deh. Mau sampai kapan ngadem-ngademin ati yang sebenernya nggak harusnya gitu. Coba dikaji ulang deh, ini semua cuman penasaran atau suka? Kalau hanya penasaran, cepat akhiri saja rasanya, daripada penasaran tiada henti. Terkadang pengharapan itu memberatkan. Sesungguhnya asal muasal dari kenapa susah move on itu adalah karena pengharapan yang ada terlampau besar sehingga tidak bisa lagi kuat untuk melangkah. Karena ya... tertahan oleh rasa pegharapan yang memberatkan itu. Bagaimana kalau mulai sekarang pengharapannya disimpan dulu untuk yang lebih pasti kelak? Bagaimana kalau mencobanya terlebih dahulu? Masalah hasil, itu sudah menjadi kuasa pencipta. Yang penting  niatnya, yang penting usahanya.

-

Entahlah kayak masih ada banyak yang ngganjel. Gatau itu apa. Dan gabisa fokus ke responsi. Kepikiran terus sama kata-katanya wahyu tadi siang. "Apa yang menurut kamu baik, belum tentu baik buat kamu menurut Allah swt. Jadi ya mau nggak mau kamu belajar ikhlas aja"- Wahyu. Jleb. Sesuatu yang dikira baik belum tentu baik, sesuatu yang dinilai buruk belum tentu buruk selamanya. Apa mungkin itulah alasan Allah yang tidak kunjung mengijabah doaku untuk membolak-balikkan hatinya? Yah kalau memang begitu apa mau dikata, dikata mau apa. Yuk belajar ikhlas yuk far. Insyaallah nanti diganti sama yang lebih baik kok sama Allah :)

Doa

Tengah malem, nangis absurd banget. Abis kepo fb-nya Revan. Dulu banget, dulu. Nyeselnya masih aja keinget sampe sekarang kalo liat dia. Terus iseng buka chat jaman baheula. Semakin nyesek. Semakin tambah pengen nangis dan akhirnya nangis hebat. Dulu semua beda banget, dulu katanya walaupun negaraapi menyerang, aang pasti akan datang dan menyelamatkan dunia. Aang tolong selamatkan duniaku yah. Tuhan, aku juga minta tolong yah, sangat. Dengarkan doa diantara sedu sedanku malam ini. Rubahlah hatinya, karena hanya engkau yang memiliki kuasa akan itu. Hanya engkau yang tau semua skenario ini, aku hanya meminta berikan aku satu kesempatan untuk berubah, untuk membuktikan semuanya. Aku mohon Tuhan, tunjukkan kuasamu kalau kau benar-benar ada dan senantiasa mendengarkan doaku. Aku mohon, Tuhan :"""")

Lalala~

Akhirnya ngeblog tanpa rasa was-was lagi buat disalah artiin apalagi dikepoin. Hehehe. Selamat datang jurnal pribadiku yang bersifat online tapi private. Haaaah nggatau deh ngerasanya banyak banget yang salah, mulai bertanya tanya, sebenarnya ini bener nggak sih? Sebenernya salah nggak sih ini masih aja nyimpen harapan buat orang itu? Dan salah nggak sih kalo aku benci sama yang lalu? Yang nyakitinnya tanpa kira-kira. Yang sekarang, makan sendiri omongan dia. Yang sekarang, nelen lagi ludahnya? Benci. Kecewa. Sebel. Semua jadi satu. Aku udah nggak cemburu, hanya aku benci aja. Bisa-bisanya tertawa diatas tangis orang. Bisa-bisanya.

Apa kabar?

Hai. Apa kabar? Apakah kita masih sama beku? Ataukah kita masih sama keras seperti batu? Atau lagi kita masih sama-sama mendiamkan seperti desau angin yang berhembus tanpa arah? Aku masih diam, masih menungggu badaimu reda dahulu. Tak peduli berapa lama. Tak peduli berapa dekade. Aku masih disini. Masih juga berusaha mengobati rasa sakitku dari yang lalu. Yang berkata manis namun berujung menyayat hati. Yang awalnya menjanjikan kan indah, namun berakhir hancur lebur dihantam badai dan tsunami. Yang namanya, enggan kudengar, enggan kupanggil, dan enggan kuingat. Ternyata sakitnya semakin menggerogoti, terlebih lagi dengan keadaan kita yang seperti ini. Seperti batu.