Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2012

Dihantam Sunyi

Aku masih menangis malam ini. Membiarkan dingin membungkus erat tubuhku. Membiarkan tawa bersembunyi dariku. Aku tau, selalu tau hal ini akan terjadi. Karena aku tau ini takdirku. Takdir kita. Kali ini sunyi memakan semua yang ada. Termasuk kenangan kita. Yang lalu-lalu. Masihkah terasa? Atau masihkah akan sama seperti yang lalu misalkan itu beberapa tahun ke depan? Yakinkah? Atau hilangkah itu? Menguap dengan cepat tanpa terhenti? Aku masih berada di persimpangan, menunggu kabut turun agar aku bisa melangkah kemana arah yang kuambil. Jurang bebatuan ataukah jurang tak berdasar. Aku masih diam, hatiku belur dihantam sunyi. Tawaku kering dihisap tangis. Dan cintaku mati dibunuh kata-kata.

Masih?

Rasanya letih. Aku baru saja melepaskan sejuta asa tentang rindu yang tertahan selama ini. Mungkin rinduku tak akan pernah sampai atau berbalas. Rinduku sendiri sudah lupa arah tujuannya. Apa aku harus menjadi udara yang selalu kau jamah? Agar rindu ini mengingat kembali arah pulangnya? Agar rindu ini kembali menapak ke hatimu? Atau haruskah memang rindu ini didiamkan sampai ia benar-benar lupa dan menolak untuk ingat? Ketika ia menolak untuk ingat, ketika itu pula doaku terputus untukmu. Dan ketika hal itu terjadi, aku tidak yakin aku masih benar-benar hidup.

Childhood

Jadi inget dulu jaman kecil. Waktu SD. Masih di lubuk linggau, Palembang. Temen sebangku, Wulan tanya gini "Put, kalo kamu punya uang 1 milyar mau buat apa?". "Lah kalo kamu apa?". "Aku mau beli banyak mainan, mau jalan-jalan, beli ini itu. Kamu apa?". "Pengen bikin panti asuhan, sama panti jompo". "Lho kenapa? Nggak sayang?". "Enggak, kasihan liat mereka nggak ke-urus gitu. Kan aku bisa pinjem kamu mainannya?"."Iya ya, ntar kita main bareng-bareng ya"."Iyaaa". Haha jaman kecil. Udah bertahun-tahun yang lalu. Nggak tau kenapa gitu bisa ngomong gitu. Yah, semoga jadi kenyataan suatu saat nanti. Setidaknya bisa berguna bagi orang lain. Bisa membantu, walaupun nggak seberapa.

Hidup itu mampir.

Pulang buber. Berempat. Dyff. Selalu. Habis mbalap naik vespa ngejer jam 5. Makan porsi kuli. Kenyang sampe nggak bisa ndegek. Cari tempat buat sholat. Musholla penuh. Jadi kabur ke masjid SMA11. Sholat. Bertiga sama yusri sama dara. Jadi imam. Cari pahala banyak, berjamaah. Selesai doa. Bantu iyus nglepas ikatan tali pati di mukena. Terus firman manggil-manggil. Ternyata dia mau cerita. Ada bapak-bapak juga abis sholat. Cerita ke dia, habis kena musibah. Dibobol maling. Nggak punya apa-apa lagi. Mau pulang ke Malang. Disini nggak tau harus apa lagi. Tapi cuma punya duit 2 ribu. Nggak tega. Rasanya pengen nangis. Selama ini cuma ngeliat ke atas terus. Cuma mikirin diri sendiri terus. Kurang bersyukur sama Tuhan. Padahal rasa bahagianya udah ngumpul menuhin hati. Padahal yang lain, yang kurang juga bisa bersyukur. Bisa bahagia walaupun nggak dalam kemewahan. Jadi sadar, hidup itu cuma mampir. Cuma bentar. Mampir, terserah mau ngapain aja. Mau peduli atau egois. Contohnya ya bapak itu ta...

BLAM!

Yah kali ini dirasuk pedih yang hebat. Tidak, tidak lagi dibawah hujan seperti dua tahun lalu. Tidak, tidak lagi nikotin. Ah tidak atau belum? Masihkah aku harus mencari lagi pemantik usang yang terlupa itu. Berusaha mengingat rasanya lagi berusaha mengingat asapnya lagi. Yang membawa kelam lagi. Aku memang berjanji untuk berhenti, tapi tak berjanji untuk tidak mengulangi, bukan? Ah, kenangan itu. Selalu membungkam tawaku saat sendiri. Selalu menikmati sedih yang memberontak. Kali ini yang ada hanyalah aku dan diam. Sepi. Mengingatkanku pada sekarat yang tak berujung. Menenggelamkanku pada sesak yang tak berakhir. Rasanya klise. Ah tidak, rasanya terlempar jauh ke padang pasir yang tidak berpenghuni. Sendirian. Entah sampai kapan. Mungkin sampai nikotin itu mulai menggerogoti dan menetap disini. Di nafasku. Dan di hidupku. BLAM! Dan nanti kisah ini akan berakhir sendirinya. Tanpa ampun. Merasuk mengahncurkan apa saja yang dilihatnya dan dihadapinya.
Ini rasanya kayak ngulang yang dulu-dulu. Kayak ngulang film yang sama dengan alur yang sama. Nggak pernah nggak ngenes. Nggak pernah juga nggak ngilu. Nggak semua tau, nggak semua juga mau tau. Yang tau ya cuman aku. Yang tau ya cuman Tuhan. Jam wekerku diambil lagi. Kalo dulu diambilnya pas pertengahan. Mau gimana-gimana ya jadi gimana. Kalo yang ini aku puasa aja belom. Ngga pernah ngerti kenapa nggak dikasih satu pandangan. Satu cara berfikir jadi nggak bentrok. Jadi nggak ada kesempatan buat diambil gini jam wekernya. Nggak ngerti. Bener-bener nggak ngerti. Butuh alarm hp sementara kayaknya. Biar meyakinkanku melewati sampe akhir. Terus finish. Terus terus.. Amnesia.

Mau dikasih judul apa?

Postingan ini mau dikasih judul apa? Nggak tau apa deh. Mau posting apa? Nggak tau juga deh. Mau curhat apa? Nggak tau juga deh. Tujuanmu buka blog apa? Nggak tau juga deh. Kamu kok apa-apa nggak tau? Yoben to, rasah iyik. Seng nggak tau siapa? Aku to? Kenapa ribut. Kurang lebih itu gejolak yang menampar hati saya berulang kali. Entahlah. Tuhan memang tidak ingin aku mempunyai jam weker disaat puasa mungkin, belum saatnya. Lalu kapan? Jam weker terakhirku ya 2 tahun yang lalu. Terus sekarang jam wekernya yang dulu itu udah hilang. Nggak akan balik lagi. Nah yang ini? Mau dibuat juga nggak balik lagi? Tuhan kok gitu? :( aku kan nggak nakalin siapa-siapa. Aku kan cuma minta jam weker. Kok cuman dikasih sebentar? Tuhan kenapa?

#1

Pikirannya jauh pergi ke masa-masa lalu. Rasanya energinya telah habis terkuras ketika ia kembali ke masa lalu dan menelusur apa kesalahannya. "Ah, tidak ada yang salah sepertinya" desisnya pelan seraya mengutuk dirinya sendiri. Ia masih menerawang jauh menatap ke jalanan yang padat merayap walau tengah hujan lebat seperti ini. Salsa mengenyahkan tubuhnya ke jok mobil di belakangnya, berharap hal itu bisa membawanya kembali ke rumah dalam sekejap. Lagi-lagi sedan hitam di belakang mobilnya membunyikan klakson, seolah memaksanya untuk maju. "Ah, diamlah! Jalanan memang macet, sabar sedikit kenapa sih?" umpatnya kesal lalu ikut-ikutan melakukan hal yang sama, membunyikan klakson agar mobil di depannya maju paling tidak beberapa meter. Jakarta memang payah akhir-akhir ini, hujan dan banjir dimana-mana. Dan bagusnya lagi, untuk ke kantor ataupun ke rumahnya, ia harus melewati daerah yang rawan banjir. Biasanya saat terjebak macet seperti ini, ia akan langsung menelepon ...

Voila!

Voila! Punya banyak banget ide buat dituangkan jadi novel, akhirnya. Dan masih terus berusaha membuatnya menjadi nyata. Semoga Ramadhan kali ini semua tuntas dan bisa menelurkan satu buah novel yang bagus :")

Diam

Kali ini aku berhenti menatap matahari. Semakin lama cahayanya semakin menyakitkan. Aku terdiam, masih terasa bau anyir darah di ulu hatiku. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi sebelum ini. Aku memilih bungkam mengikuti alur yang ada. Menyenangkan Ia, membiarkannya hidup semakin tergantung pada orang lain. Aku hanyalah tokoh protagonis yang masih sering dipertanyakan keberadaannya. Walaupun itu sudah sebulan yang lalu. Aku tidak mampu membeli banyak kata atau kalimat hanya untuk melayangkan pembelaanku. Ini bukan kasus meja hijau, ini bukan kasus dimana kita perlu membayar kalimat untuk membela. Karena itu aku hanya ingin diam. Mendiamkan semua ini, dan selalu berharap kelak rasa getirnya akan ikut terbawa arus hingga jauh. Hingga hilang bersama sepi. Karena getir ini adalah luka, adalah anyir darah yang tidak pernah hilang. Dan karena getir inilah, aku mengingatmu. Dan akan selalu mengingatmu, kemanapun kamu berjalan. Walaupun itu bertolak belakang denganku, aku masih punya seribu m...

Bestfriends

Yang namanya sahabat itu nggak akan terus nuntut. Yang namanya sahabat itu nggak akan terus-terusan minta dimengerti. Yang namanya sahabat itu nggak pernah mau maksain kehendaknya. Dan yang namanya sahabat itu nggak pernah ngelarang sahabatnya untuk temenan sama yang lain. Dan yang namanya sahabat itu harusnya nggak ngekang. Belajarlah mengerti dari masalah-masalahmu. Belajarlah menghargai dari perpisahan yang pernah ada. Dan belajarlah ketulusan ketika dia masih mau menerimamu lagi, walaupun saat itu kamu sudah pernah menggoreskan luka di hatinya. Belajarlah untuk tidak mengabaikannya ketika ia membuatmu merasa nyaman. Dan belajarlah tidak menuntut ketika dia menerimamu apa adanya, dengan segala kelebiham ataupun kekuranganmu.

Hey July!

Whoaaaaaa lama banget nggak nge-post. Abis balik ke tanah kelahiran di Bangka sana. Jadi bagpacker sejati B) berangkat pulang sendiri semua haha. Cuman seminggu disana, bentar banget sih, tapi kalo lebih lama juga tambah nggak kuat. Pulang selasa dan tadi udah melayang entah kemana. Well udah bulan Juli aja. Harapannya nggak muluk-muluk kok. Cuman selalu berikan yang terbaik umtukku, Tuhan. Apapun itu :)