Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012
Perlu waktu bertahun-tahun? Nggak apa-apa kok. Mau nunggu bertahun-tahun? Okedeh.
Ngga tau, stuck. Jalan di tempat. Dengan tempo yang lambat. Dan tiba-tiba berhenti. Fix berhenti. Tapi tetep masih ke satu arah.-
Gambar
Stuck abis. Dan secara gila ganti bio twitter -_-

Syarat.

Syarat utamanya, nggak boleh ngeluh dan harus berkomitmen tinggi. Dalam hal apapun. Well, mari perbaiki diri. Mari stop mengeluh. Mari mencoba melakukan apa yang susah dilakukan sejak dulu. Mari mendewasakan diri. Mari terikat dengan waktu dan rasa sakit yang selalu ada.

Patah.

Kayak denger suara benda patah dari dalam. Nggak tau apa yang patah. Cuman gara-gara itu kayak jadi linglung, jadi bingung. Apa yang patah itu syaraf ya? Kalau hati yang patah, masa iya sih patah? Itu sebenernya jleb nggak sih? Atau aku yang nggak peka? Atau aku yang masih mau nurutin ego buat nundukin rasa penasaran atau, lainnya sih? Nggak ngerti harus nunggu berapa lama, atau harus diam berapa lama. Bener nggak sih aku yang nunggu? Atau harusnya aku yang ditungggu? Atau sebenarnya sudah ada yang menungguku? Mau nunggu sampai badainya selesai, baru mengalihkan pandangan deh. Nunggu sampe bosen sendiri deh. Siapa tau kali ini nggak bosen. Well, kalo nggak berekpetasi, nggak bakal sakit kok. Jalanin aja. Tanpa berharap apapun.

Hujan.

Hujan sedang menyukai kotaku ini. Hampir setiap hari ia datang hanya untuk mencium basah kotaku. Semua orang belum tentu menyukai hujan. Aku menyukai hujan, menyukai saat aku berada di bawah rintik hujannya. Menyukai saat dimana rintiknya mengenai wajahku. Karena disaat itulah aku bisa menitikkan air mata dengan leluasa. Karena aku tau, langit juga ikut menangis dan berduka. Well, klasik memang. Menyukai hujan, apalagi dibawahnya hanya karena tidak akan terlihat ketika menangis. Setidaknya hanya hujan dan rintiknya lah yang selalu bisa mengaburkan semua masa lalu yang menyakitkan. Hanya hujanlah yang mengerti dan mau menyimpan, sepotong kenangan di masa lalu. Masa sebulan yang lalu.

Jalan (dan) Semesta

Masih di jalan yang itu. Masih melewati semesta yang sama. Dan masih keadaan yang riuh deru lalu lalang kehidupan. Di jalan ini, sebuah senyum pernah tersungging. Sebuah tawa bahagia pernah terdengar, lebih tepatnya didengarkan. Dan di jalan yang sama pula, sebuah lantunan doa yang tulus pernah diucapkan mengharap diijabah. Semesta yang sama, semesta yang lalu. Yang seolah selalu menanyakan hal yang sama, "Kapan semua terulang kembali?". Pertanyaan yang menghempas kembali ke rasa sakit yang sama. Rasa sakit yang dibuat karena kebodohan diri dan euphoria yang berlebihan. Masih mematut diri, memperbaiki semua yang ada. Dan berharap suatu saat nanti, kelak, doa yang selalu dilantunkan diijabah dan bahagia. Bersama semesta juga.

Sepakat. Pilihan. Korban.

Sepakat. Pilihan. Korban. 3 hal yang sebenernya saling berkaitan. Sepakat, kali ini kaki-kaki kecil ini berontak meminta kesepakatan. Karena mereka hilang arah dan berjalan tak menentu. Ingin mengikuti jejak langkah kakimu, namun itu terlalu jauh di depan. Di luar jangkauanku. Atau ingin diam disini, terus melakukan gaya namun kecil, tapi dalam waktu yang lama? Atau sama sekali diam tanpa memberikan gaya? Membiarkan semua apa adanya. Membiarkan semesta mengambil peran utama disini? Atau apa? Sepakat ini masih bungkam. Perseteruan masih terjadi antara otak dan hati. Antara logika dan perasaan. Dimana satu menyuruh tuk berhenti dan menghargai mereka yang masih rela menungguku. Dan satu lagi, menyuruh tuk terus berjalan mengikutimu. Walau yang kulihat hanya bayanganmu. "Terkadang nggak selalu perasaan itu bener. Ada kalanya otak yang tau mana yang nyaman dan bikin kita bahagia"- Nain. Dan kalimat itu menambah lagi deru seteru yang ada. Dimana masing-masing merasa paling benar da...

Diam

Kali ini cuma mau diam dan bisa diam. Cuma bisa mematut diri sendiri di depan kaca dan berusaha merapikan apa yang ternyata tidak seharusnya ada dan nampak. Mencoba belajar dari kesalahan dan pengalaman yang lalu-lalu. Dari semua perkataan yang menampar hati. Iya, semua orang seharusnya tidak perlu tau. Semua orang harusnya tidak secepat itu menyimpulkan. Yang membuatmu lalu pergi dan menjauh. Tidak tergapai. Dan entahlah, kenapa masih saja aku melihat ke arahmu. Walau kini yang aku lihat adalah punggung yang kian mengecil karena semakin menjauh dan jauh. Aku berusaha mengikuti langkahmu, berharap semua membaik dan menjadi biasa. Namun, langkah kakimu terlalu lebar untuk kusamai. Lalu aku bisa apa? Menunggu di persimpangan jalan ini? Berharap angin membawa langkah kakimu melewatiku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, agar aku dimaafkan seutuh dan setulusnya?