Sepakat. Pilihan. Korban.
Sepakat. Pilihan. Korban. 3 hal yang sebenernya saling berkaitan. Sepakat, kali ini kaki-kaki kecil ini berontak meminta kesepakatan. Karena mereka hilang arah dan berjalan tak menentu. Ingin mengikuti jejak langkah kakimu, namun itu terlalu jauh di depan. Di luar jangkauanku. Atau ingin diam disini, terus melakukan gaya namun kecil, tapi dalam waktu yang lama? Atau sama sekali diam tanpa memberikan gaya? Membiarkan semua apa adanya. Membiarkan semesta mengambil peran utama disini? Atau apa? Sepakat ini masih bungkam. Perseteruan masih terjadi antara otak dan hati. Antara logika dan perasaan. Dimana satu menyuruh tuk berhenti dan menghargai mereka yang masih rela menungguku. Dan satu lagi, menyuruh tuk terus berjalan mengikutimu. Walau yang kulihat hanya bayanganmu. "Terkadang nggak selalu perasaan itu bener. Ada kalanya otak yang tau mana yang nyaman dan bikin kita bahagia"- Nain. Dan kalimat itu menambah lagi deru seteru yang ada. Dimana masing-masing merasa paling benar dan tidak terkalahkan. Dan kali ini setelah malam ini, sepakat punya opsi lain. Gencatan senjata untuk keduanya. Karena lagi-lagi malam ini diabaikan dan diacuhkan. Hati pun mulai melogika, mulai rasional. "Ngapain nunggu orang yang nggak pernah ngeharapin kamu, realistis aja"- Sa'ban. Dan perlahan, hati mulai sepakat dengan otak. Memperlambat jalannya, dan pasti akan berhenti. Namun bukan sekarang, bukan secepat ini. Pilihan, bagian itu bagian pahitnya. Sudah sepakat, lalu pilihanmu apa? Yakin dengan pilihanmu? Yakinkah untuk berhenti dan memalingkan pandanganmu darinya? Dan lagi-lagi hati menjadi goyah. Apakah bisa? Korban, yang paling mengenaskan dari semuanya. Selalu akan ada konsekuensi dari setiap perbuatan. Selalu ada tanggung jawab. Dan korban-lah yang akan timbul. Pilihanku hanya 2, korbankan hati untuk hancur, atau korbankan otak untuk hilang ingatan.
Komentar