Diam

Kali ini cuma mau diam dan bisa diam. Cuma bisa mematut diri sendiri di depan kaca dan berusaha merapikan apa yang ternyata tidak seharusnya ada dan nampak. Mencoba belajar dari kesalahan dan pengalaman yang lalu-lalu. Dari semua perkataan yang menampar hati. Iya, semua orang seharusnya tidak perlu tau. Semua orang harusnya tidak secepat itu menyimpulkan. Yang membuatmu lalu pergi dan menjauh. Tidak tergapai. Dan entahlah, kenapa masih saja aku melihat ke arahmu. Walau kini yang aku lihat adalah punggung yang kian mengecil karena semakin menjauh dan jauh. Aku berusaha mengikuti langkahmu, berharap semua membaik dan menjadi biasa. Namun, langkah kakimu terlalu lebar untuk kusamai. Lalu aku bisa apa? Menunggu di persimpangan jalan ini? Berharap angin membawa langkah kakimu melewatiku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, agar aku dimaafkan seutuh dan setulusnya?

Komentar