Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2012

Musimku

Badai. Kali ini sedang musim badai. Aku menengok ke garis horizon yang tak berujung. Tidak bersahabat. Ia memalingkan muka dariku. Ah mungkin ia belum bisa menerima kalau kini aku tidak lagi ada di sisinya. Ia kembali menggeram, menghentak lamunan. Memberi pertanda badai itu segera datang. Aku terdiam, semakin mempererat genggamanku pada kekasihku. Garis khatulistiwa yang hangat. Hujan. Tangisku pecah dibawah hujan. Bukan. Bukan dibawah, tetapi di dalam. Badai itu memporak-porandakan hatiku. Membuat lubang besar di hatiku. Mengacaukan semua rencanaku dengan semesta. Membuat Tuhan murka. Tangisku tertahan. Amarahku bergejolak. Dan rasa benci mulai menjalari seluruh urat nadiku. Kemarau. Nah! Musim ini akhirnya datang. Menandakan seluruh air mataku telah habis dibuatnya. Kali ini Tuhan tidak mau tau lagi apa keluh mereka. Tuhan sedang menjalankan keadilan. Dan seluruh malaikat mematuhinya. Tidak memanjakannya lagi. Salju. Putih. Dimana-mana war...

Make it simple

Make it simple. Terinspirasi abis baca blognya firman. Oke hidup itu emang kadang nggak se-simple yang kita pikirkan, tapi juga nggak se-rumit yang kita bayangin juga. Itu relatif, tergantung pemilihan individu masing-masing sebenarnya. Yang simple itu bahagia. Asal banyak bersyukur aja, sama ikhlas ngejalanin hidup. Hidup itu pengorbanan, pengorbanan gimana kita bisa hidup damai, tentram, ayem, bahagia. Kuncinya di kita kok, kalo kita mikir kita mau bahagia ya kita bahagia apapun keadaannya. Walaupun terkadang kebahagiaan yang harusnya milik kita harus hilang begitu aja di depan mata kita. Kayak misalnya kita udah jauh-jauh jalan buat beli es krim di supermarket dan ketika sampe sana ternyata es krimnya tinggal satu dan itu udah diambil orang. Rasanya sih sedih, iya sedih. Sama aja hal-nya kayak misal kita mau ngomong sayang ke orang yang selama ini kita sayangin, tapi ternyata dia udah nemuin pengisi hatinya yang ternyata bukan kita. Namun, kembali lagi ke atas, apapun keadaannya kit...

Another love story

Cerita cinta yang lain, mungkin tak berbeda dan mungkin tak serupa. Cerita cinta yang lain, mungkin plot yang sama, atau mungkin jalan cerita yang sama. Cerita cinta yang lain tak pernah dengan orang yang sama. Tidak pernah jatuh di tempat yang sama untuk ke-sekian kali. Cerita cinta yang lain, terkadang tak pernah terfikir bagaimana dimulainya.Cerita cinta yang lain, tak pernah tau bagaimana itu terjadi. Dan cerita cinta yang lain, selalu punya caranya sendiri untuk membahagiakan. Kalaupun belum bertemu cerita cinta yang lain, setidaknya bersabarlah. Karena cinta sedang berada di jalan menuju hatimu, tentu saja dengan plot dan ending-nya yang indah. Cerita cinta yang lain, selalu datang dengan peran antagonis yang menyerang, siapkan amunisimu. Bangun benteng terkokoh di hatimu, jangan mau kalah dengan antagonis-nya! Karena di cerita cinta yang lain, kamulah ending-nya. Kamu, dan cintamu.

Late Brrrrday!

Gambar
Ini postinganya harusnya udah dari april kemarin abis UN tapi nggak sempet-sempet nge-posting. Late brrday yang seru! Ulang tahunku sama Firmansyah digabungin, secara kita ulang tahunnya jejer. Cuma beda setahun. Dan di foto nya ini mukaku masih bonyok bonyok gara gara kecelakaan pas tanggal 12 April ;;)

3

Gambar
Ah iya ada juga nih foto-foto yang nuntut buat di-eksis-kan :-) Sebenernya ini kurang Sita, Firman sama Subi

Pictures

Gambar
itu baru beberapa foto yang bisa di-upload disini, yang diambil dari kameranya Iyus. Nanti kalo udah komplit yang dari AI aku upload lagi :-D

Be Your Self

Promnight SMAVEN, 16th June 2012. Great! Awesome! Pokoknya keren abisss. Kerja keras panitia, keringat panitia, usaha panitia, semua nggak sia-sia. Dari siang udah riweuh disana, ada Kidung, Lia, Icha, Gity, Anis, Dema, Sita, Aku, Epa, Dana, Firman, Ardi, Ory, Acenk, Wawan, Amir, Subek, Hino, Ichal. Ribut pada pompa balon, niup balon, terus nge-dekor. Malemnya keren. Dance kita heboh. Aku nge-dance pake wedges. Keren. Nyaris jatuh untung nggak jatuh. Malam itu keren. Baru bisa ngerasain kalo semua ini udah diujung. Kita udah sama-sama punya tiket buat mulai kehidupan yang sebenarnya. Kita udah nggak bisa lagi main-main terus kerjaannya. Nggak bisa lagi nge-undo semua hal yang mungkin nggak kita kehendakin. Nggak nyangka, 3 tahun itu cepet banget. Dan 3 tahun itu banyak orang yang sebenernya love-able di sekitar kita, tapi kita yang sering nggak sadar dan mengabaikan itu. Persahabatan tak butuh selalu bertemu atau jalan bersama setiap hari, yang ia butuhkan hanyalah tempat di hati kita...

...

Ada yang punya saran nggak, gimana rasanya menetralkan hati yang udah nggak berfungsi dengan baik? Atau gimana caranya melupakan seseorang dengan kilat? Kalau ada resepnya aku minta. Kali ini dayaku tinggal separuh. Rasanya aku sudah berlari terlalu jauh meninggalkan semua tawa itu di belakangku. Rasanya aku sudah berlari dari pekatnya dan dari getirnya. Namun seolah percuma, hal itu masih saja terus mendatangiku. Membuatku kalut. Semua ini samar. Semua ini hambar. Jauh dari hingar bingar. Jauh dari sinar. Aku masih berusaha, terus berusaha lari dan lupa. Namun mana mungkin? Kalau ternyata aku masih terus menghadap selatan, menghadap ke arahmu, nun jauh disana.

Terpaksa

Terkadang sesuatu menuntutmu untuk menjadi yang lain. Terkadang sesuatu meminta paksa untuk mengorbankan yang kau punya. Dan terkadang kau tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menurutinya. Mungkin merenggangmu tidaklah semudah seperti yang terlihat. Layaknya pepatah "Lihatlah air hingga ke dasarnya". Maka, lihatlah pula hati ke dasarnya. Memang, tidak semua orang punya kesabaran yang ekstra untuk menghadapinya. Beberapa diantara mereka memilih menepi dan berhenti di pinggir jalan, tak terkecuali kamu, terhadap kisah kita. Namun ada pula mereka yang masih terus meneruskan, walaupun dengan ketidak sempurnaan yang ada. Terkadang ketika kita telah berhenti, kita akan susah kembali berjalan di jalan yang sama dan dengan pendamping yang sama. Dan dengan terpaksa kita harus kembali menunggu waktu, untuk membawa semua sedih yang menggunung.

There is no way to back

There is no way to back. Aku sudah menutup rapat semua akses yang mungkin bisa digunakan untuk membuka masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu. Yang di belakang tidak usah lagi dihirau. Aku tidak punya kaca spion untuk melihat ke belakang. Yang aku tau, aku mampu dan aku bisa untuk selalu bahagia. Hatiku mungkin kali ini lebur. Namun tidak senyumku. Iya masih bertengger disana. Selalu disana, dengan atau tanpa dirimu. Kali ini bukan lah  cerita fiksi seperti biasanya. Namun inilah curahan hati. Yang mungkin terlupa oleh beberapa sudut hati. Atau bahkan yang tak dianggap oleh beberapa masa.

Puzzle

Terkadang semua ini seperti potongan puzzle yang belum tau apakah pecahan yang kita ambil ini cocok dan pas sama yang dicari. Dan terkadang kita harus menelan kekecewaan akan sedihnya tidak menemukan pecahan puzzle yang cocok. Seperti kita yang merasa telah menemukan yang diinginkan, namun ternyata hal itu malah menyakiti kita sendiri. Terkadang kalau harapan kita terlalu tinggi, kita butuh orang lain untuk menyadarkan kita. Agar ketika kita jatuh tidak sakit. Terkadang pula, yang baik belum tentu bertahan, dan yang belum baik belum tentu kandas. Semua ini proses, menguatkan hidup. Membuatnya tahan banting dan kebas sakit. Dan intinya, aku masih menunggu potongan puzzle ku yang sebenarnya.

Dimakan Rindu

Aku tidak pernah membenci rindu, karena rindu hatiku masih utuh. Aku tidak pernah membenci rindu, karena rindu yang mengingatkanku akan dirimu. Aku tidak pernah membenci rindu, walau kian lama kian terasa menyakitkan. Aku tidak pernah membenci rindu karena rindu membungkus rapat hatiku untuk yang lain. Aku tidak pernah membenci rindu, karena rindu selalu menemaniku. Aku tidak pernah membenci rindu, karena tanpa rindu kamu telah lama mati. Aku tidak pernah membenci rindu, karena rindu adalah bahagia semu-ku. Dan untuk terakhir kali, aku tidak pernah membenci rindu. Karena rindu satu-satunya jalan penghubung bagi kita untuk saling mendoakan satu sama lain.

Kangen berpangkat

Kangen berpangkat. Aku buka lagi bagian itu. Menimbulkan sensasi yang menakjubkan. Hariku menjadi gerimis. Senyumku memudar, tak seperti inginku padamu yang tak pernah pudar. Aku beranjak, berusaha menutup bagian itu namun terlambat. Kangen berpangkat milikmu kembali datang. Aku semakin pudar. Hariku menjadi hujan lebat. Dan semua buram. Aku kembali lagi ke masa itu. Masa-masa dulu. Aku ingat betapa susahnya berusaha menghapusmu dari hatiku. Dan aku ingat, betapa susahnya aku menghindarimu selama 3 tahun belakangan ini. Karena bayangmu selalu berusaha menarikku ke pesakitanmu yang lalu. Aku bergeming. Aku berontak. Aku berlari. Aku kabur, berusaha untuk tidak membuka lagi sakit ini. Bukan sakit, tetapi candu. Biarkan aku menutup bagian kangen berpangkat ini. Aku ingin lepas. Dan tersenyum ketika mendengar namamu disebut, karena aku pernah di hatimu, 3 tahun.

Dibalik Senja

Dibalik senja dia masih sendiri. Dibalik senja dia masih menggantung asa. Berharap kelak sepinya akan habis terganti tawa. Dibalik senja ia berkabut. Dibalik senja ia ber-monolog. Penghiburan diri, katanya. Dibalik senja ia bersenandung riang. Pengampunan diri akan masa lalu, katanya. Dibalik senja ia menangis, menjadi biru. Dibalik senja ia berteman asap. Berusaha menulis kata diatas gumpalan putihnya. Dibalik senja, ia yakin kelak ia kan bahagia. Dibalik senja ia menggumam, Tuhan terlalu baik padanya. Dan dibalik senja ia berbisik, aku kan selalu menunggumu disini.

Tidak Akan

Tidak akan pernah kubiarkan kamu, atau siapapun menghancurkanku. Kalaupun bisa, kelak aku akan tumbuh lebih banyak untuk berdiri kembali. Kamu, tidak akan pernah sekalipun kamu dapat merenggut senyumku. Aku berusaha untuk selalu membangun tembok pertahananku setinggi dan sekuat mungkin. Dan aku yakin, semesta menolongku untuk bahagia.

INGAT!

Ingat! Kamu bukan Tuhan. Ingat! Kamu tidak bisa menentang semesta. Ingat! Kamu tidak sempurna. Ingat! Karma selalu mengejarmu, walau ia masih berjalan perlahan di belakangmu. Ingat! Tuhan tidak pernah tidur.

Buat Kamu

Aku lebih memilih untuk "tuli" ketika kau mencaci makiku. Aku lebih memilih untuk "buta" ketika kau menertawakanku. Aku lebih memilih untuk "kebas" akan efek yang kau berikan. Aku bukanlah makhluk Tuhan yang sempurna. Aku juga tak cukup sempurna dibanding dirimu. Dan aku juga tak cukup sempurna untuk menantang Tuhan. Tapi karena ketidak sempurnaan itulah aku berharga. Karena aku tidak pernah menyalahkan apa yang terjadi padaku. Aku tidak menimpakan kesalahanku kepada orang lain. Aku selalu nerusaha membuat orang lain bahagia. Dan aku selalu berusaha untuk tidak bertindak buruk pada mereka yang (sedang) menyakitiku, seperti kamu sekarang. Aku lebih memilih diam, karena saat inilah diam berharga emas. Kamu, bukan Tuhan yang berhak selalu menguntitku. Kamu bahkan tidak punya sedikitpun hak untuk mencaci dan menyakitiku. Karena bukan kamu yang membuatku ada dan hidup di dunia ini. Kamu bukanlah siapa-siapaku. Aku dan kamu sama di hadapan Tuhan. Yang membedakan...

Tembok

Tembok? Iya buatku kamu itu hanya tembok, yang sama sekali tidak penting bagiku. Kamu itu rapuh, belum lama berdiri disana. Sudah berapa lama kamu hidup? Berapa kali disakiti dan menyakiti? Sudah pernah melihat kematian? Sudah pernah melihat kehidupan? Kesedihan? Kebahagiaan? Seberapa banyak hingga kau berani menantang semesta? Menantang Tuhan lebih tepatnya. Sudah pernah berhenti menyalahkan orang lain atas peristiwa yang menimpamu? Aku tebak, belum sama sekali. Benar? Karena kamu masih saja menyalahkan hal lain diluar dirimu akan kenyataan ini. Coba renungkan, dimana letak kesalahanmu? Aku yakin, kamu juga ikut andil membuat pesakitanmu sekarang ini. Aku yakin. Harusnya kalau kau (cukup) pintar untuk belajar dari sebuah pelajaran, kau akan mengerti mengapa semua ini terjadi. Dan kalau kau taat pada Tuhanmu, pasti kau selalu berbaik sangka pada-Nya dan selalu berdoa yang baik-baik tentang siapapun. Karena api milikmu, akan selalu padam oleh air yang kupunya. Lantas mau bagaimana? Sela...

Unprecditable

Semua ini bukanlah semudah komentator bola memprediksikan hasil akhir pertandingan sebuah laga bola. Ini tentang hati. Entah bagaimana awalnya, aku jatuh hati padanya. Sebagian hatiku tepatnya, tanpa kusadari. Dia tidaklah seperti pangeran-pangeran di dongeng cerita terindah. Dia juga bukan seperti bodyguard yang selalu siap sedia untuk menyelamatkanku. Tapi dia yang ternyata mampu menguatkan aku di saat aku lemah. Dia yang tiada henti menghiasi hariku dengan senyum. Dan dia yang berhasil mematikan kaset rusak yang selalu dimainkan tanpa henti di dalam hatiku. Dia, yang memberikan hatinya untukku. Dia, yang mau mendengarkan seluruh ocehanku, walaupun itu terdengar seperti lagu yang dimainkan ulang dan tanpa henti. Dia, yang sabar dan tiada henti membuatku terkagum. Dia, yang membuatku berhenti. Dia, yang menggurat cinta di hatiku. Dia, yang tersayang. Dia.

Sendu

Sendu. Judul kali ini sendu. Aku masih duduk diam disitu. Menatap nanar ke tanah. Aku diam, menenggelamkan dirinya dalam pikirannya sendiri. Sesungguhnya aku lelah, lelah untuk terus berlari dan melawan. Aku ingin pasrah pada takdir. Belajar merelakan apa yang bukan menjadi penghujungnya. Namun, lagi-lagi cinta itu datang dan mengingatkan alasanku bertahan. Bukan wanita itu yang menentukan pilihannya, tetapi lelaki itu, kekasihku-lah yang menentukannya. Aku mungkin tidaklah terlalu sempurna, ataupun anggun dibandingkan wanita itu. Aku kalah, kalah telak mungkin. Mungkin itu maunya. Tapi setidaknya aku kalah dengan ikhlas dan rela. Biarlah aku kalah dalam hal kesempurnaan. Tapi kali ini, cintaku pada lelaki itu melebihi kamu. Ingat peribahasa "Air tenang menghanyutkan"? Itulah aku sekarang. Tidak seperti "Air beriak tanda tak dalam". Tidak ada yang menyangka kalau akhirnya kan seperti ini. Bahwa hatiku jatuh hati dan memilihnya, menjadikannya pengisi hariku. Menjadik...

Graduate!

Finally! Graduation juga nih. Udah resmi jadi alumni SMAN7. Bahagia, bangga, haru dan sedih. Pertama kali, masuk ngerasain ospek hahahihi ternyata ada GTB, terus bentak-bentak, nangis-nangis, huhuhuhu. Kelas sepuluh empat. Wali kelas Bu Hinduniyah. Masa-masa paling bengal. Kalo yang lain bengalnya terakhir, aku di depan. Kelas sepuluh itu, bolos pelajaran dengan rutin sampe dipanggil wali kelas. Bolos seharian cuma buat main. Bawa-bawa keling ke sekolah. Juara karate. Semua bengal disitu. Kedua kali, masuk ke IPA3 dengan nilai pas-pas an. Dan dengan kemurahan hati bu Hindun juga :") Kelas sebelas, mulai serius. Ngurangin jadwal bolos. Sibuk jadi panitia GPBT. Dan dengan masalah cinta yang terlunta-lunta. Bikin film sekelas. Best film. Proud of you guys :') kelas sebelas juga banyak konflik. Mendewasakan kita tentunya. Membuat kita mengerti kalau "life is hard". Ketiga kali, tahun ketiga. Semua (hampir) serius dengan persiapan masing-masing. Aku semangat di awal a...

Hai

"Hai" Aku akhirnya membuka obrolan senja itu dengan sepatah kata. Yang kusapa masih diam. Mematung menatapku tak percaya. Bukan menatapku, namun masih menatap dinding. Dinding yang masih menjadi sekat bagi kami. Semua sudah berakhir lebih dari setahun yang lalu, namun dia masih membangun tembok pertahanannya tinggi-tinggi. Seolah takut aku datang dan mengambil lagi hatinya yang sudah ia sembuhkan. Kali ini dia bisu. Bukan hanya kali ini, sudah sering dia bisu. Ketika bersamaku ia menjadi bisu, buta dan tuli. Semua ucapku memantul. Bergaung. Bergema. Dan mengendap di dalam hatiku. Dia masih diam. Membuatku beranjak dari hadapannya. Berlalu, dan kembali berjalan menuju garis horizon. Yang tanpa ujung.

Sedang Badai

Sedang ada badai. Mendekat padaku, dan berusaha mengambilmu dariku. Aku masih bersikeras untuk tidak melepasmu. Aku tidak kalah oleh badai. Karena aku adalah matahari.

Roda

Kamu udah pernah liat roda belum? Pasti udah. Tau nggak maksud postingan ini apa? Roda itu bulat kan, apa yang ada diatas bisa ada dibawah. Dan kalau mau terus diatas harus terus bergerak dengan seimbang, selaras, dan serasi. Kalo kebetulan dapet jalan yang becek dan banyak lobangnya yaudah ikhlas aja lagi. Berarti takdir Tuhan emang gitu. Berarti Tuhan lagi baik hati sama kita. Tuhan lagi pengen kita jadi lebih baik lagi dari yang kemarin. Tuhan pengen kita lebih banyak cerita sama Tuhan. Walaupun tanpa kita cerita aja Tuhan udah tau, sangat tahu keadaan kita. Itu yang lagi terjadi sama aku sekarang. Awalnya berat, dikata-katain itu juga sakit sebenernya. Coba ngerasain deh. Saya jamin itu nusuk banget. Hahaha. Eh, jangan deng. Oke kembali ke topik. Saya lagi merasakan dan itu memang buruk banget rasanya. Tapi saya sadar, itu tuh kado dari Tuhan, biar aku lebih sabar dan lebih sering berdoa. Terima kasih ya caciannya, itu membuat aku sadar kalau aku bukan yang paling sempurna di bumi ...

Cafe Au Lait

Cafe au lait itu favoritku. Oke. Memang sedikit "berat" dibanding kopi lainnya yang menggunakan tambahan, seperti espresso, latte, atau capuccino. Tapi cafe au lait-ku ini bersejarah. Aku awalnya tidak pernah sekalipun suka akan kopi. Karena apa? Aku kecewa. Kata papa kopi bikin nggak ngantuk, kenyataannya? Kopi malah bikin aku tetep aja ngantuk. Pertama kali nyoba cafe au lait itu rasanya, pahit. Emm iya, pahit. Beda dengan capuccino favoritku. Tapi, lama kelamaan aku jadi terikat sama cafe au lait. Kenapa? Karena pahitnya cafe au lait tidak pernah berubah, masih sama. Bahkan tidak sekalipun pernah mengecewakanku lagi. Pagi-pagi sekali selalu sudah sedia untuk menemaniku, hanyA sebatas memberikan salam dan semangat untukku untuk melalui hari. Cafe au lait. Buatku menggambar setia. Selalu sama. Tidak berlebihan dan tidak pula kurang. Nikmati selagi panas. Tapi akhir-akhir ini panas terlalu encer. Aku sedang suka pekat. Mengaburkan semua yang ada di hadapku. Mengaburkan rasa s...

Sepatah Kata

Wohooo, lama nggak posting. Karena aku terlalu pikun sehingga lupa password -__- Ciye, besok udah resmi jadi alumni nih. Udah (mau) resmi juga jadi mahasiswa baru UGM. Yang terjadi selama berbulan-bulan ini apa ya, emmm semua spesial sih, jadinya bingung mau cerita yang mana. Ah iya, aku mau balik ke Bangka. Ketemu mbah :))) Aih, semua ini indah, terima kasih Tuhan :")