Tembok

Tembok? Iya buatku kamu itu hanya tembok, yang sama sekali tidak penting bagiku. Kamu itu rapuh, belum lama berdiri disana. Sudah berapa lama kamu hidup? Berapa kali disakiti dan menyakiti? Sudah pernah melihat kematian? Sudah pernah melihat kehidupan? Kesedihan? Kebahagiaan? Seberapa banyak hingga kau berani menantang semesta? Menantang Tuhan lebih tepatnya. Sudah pernah berhenti menyalahkan orang lain atas peristiwa yang menimpamu? Aku tebak, belum sama sekali. Benar? Karena kamu masih saja menyalahkan hal lain diluar dirimu akan kenyataan ini. Coba renungkan, dimana letak kesalahanmu? Aku yakin, kamu juga ikut andil membuat pesakitanmu sekarang ini. Aku yakin. Harusnya kalau kau (cukup) pintar untuk belajar dari sebuah pelajaran, kau akan mengerti mengapa semua ini terjadi. Dan kalau kau taat pada Tuhanmu, pasti kau selalu berbaik sangka pada-Nya dan selalu berdoa yang baik-baik tentang siapapun. Karena api milikmu, akan selalu padam oleh air yang kupunya. Lantas mau bagaimana? Selalu berdoa akhir yang buruk untukku? Silahkan. Lakukan kalau itu maumu. Kalau itu bisa kau jadikan pelarian akan pesakitan yang kau buat sendiri. Aku tau luka di hatimu, luka itu kelak kan menutup seiring berjalan waktu. Namun, kau membuat semuanya seolah rumit, karena kau meneteskan air jeruk nipis di atas lukamu. Kalau begitu, kapan pesakitanmu sembuh? Kapan caci-makimu selesai? Renungkanlah. Renungkan tentang dirimu. Kalau kau belum bisa berdamai dan memahami dirimu, maka sampai kapanpun pesakitanmu akan tetap tinggal, dan membusuk bersama waktu. Tidak memudar, akan tetap sama. Kekal. Abadi.

Komentar