Hai
"Hai" Aku akhirnya membuka obrolan senja itu dengan sepatah kata. Yang kusapa masih diam. Mematung menatapku tak percaya. Bukan menatapku, namun masih menatap dinding. Dinding yang masih menjadi sekat bagi kami. Semua sudah berakhir lebih dari setahun yang lalu, namun dia masih membangun tembok pertahanannya tinggi-tinggi. Seolah takut aku datang dan mengambil lagi hatinya yang sudah ia sembuhkan. Kali ini dia bisu. Bukan hanya kali ini, sudah sering dia bisu. Ketika bersamaku ia menjadi bisu, buta dan tuli. Semua ucapku memantul. Bergaung. Bergema. Dan mengendap di dalam hatiku. Dia masih diam. Membuatku beranjak dari hadapannya. Berlalu, dan kembali berjalan menuju garis horizon. Yang tanpa ujung.
Komentar