Cafe Au Lait
Cafe au lait itu favoritku. Oke. Memang sedikit "berat" dibanding kopi lainnya yang menggunakan tambahan, seperti espresso, latte, atau capuccino. Tapi cafe au lait-ku ini bersejarah. Aku awalnya tidak pernah sekalipun suka akan kopi. Karena apa? Aku kecewa. Kata papa kopi bikin nggak ngantuk, kenyataannya? Kopi malah bikin aku tetep aja ngantuk. Pertama kali nyoba cafe au lait itu rasanya, pahit. Emm iya, pahit. Beda dengan capuccino favoritku. Tapi, lama kelamaan aku jadi terikat sama cafe au lait. Kenapa? Karena pahitnya cafe au lait tidak pernah berubah, masih sama. Bahkan tidak sekalipun pernah mengecewakanku lagi. Pagi-pagi sekali selalu sudah sedia untuk menemaniku, hanyA sebatas memberikan salam dan semangat untukku untuk melalui hari. Cafe au lait. Buatku menggambar setia. Selalu sama. Tidak berlebihan dan tidak pula kurang. Nikmati selagi panas. Tapi akhir-akhir ini panas terlalu encer. Aku sedang suka pekat. Mengaburkan semua yang ada di hadapku. Mengaburkan rasa sakit yang terus menghantuiku. Memang tidak lupa, namun teralihkan dari situ. Cafe au lait. Aku selalu mencintaimu, selalu berharap kelak kita bisa menyatu. Walau kau selalu sama dan pahit.
Komentar