Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Canggung itu...

Kali ini aku membisu memandangmu dari jauh, yah kenapa harus dari jauh? Karena aku tidak mau kamu tau kalo aku selama ini mengagumimu. Walaupun terkadang aku harus menelan pahit ketika melihatmu berjalan ke kantin dengan perempuan lain, yang bahkan aku tidak mengerti dengan jelas siapa dia. Mungkin temanmu? saudaramu? sahabatmu? atau bahkan orang yang ingin mendekatimu? Aku sudah berusaha meyakinkan diriku untuk melupakanmu, tapi itu sulit. Aku hanya ingin bisa berbicara denganmu, tapi entah mengapa ketika kita saling berselisih jalan ataupun bertatap muka seolah kata canggung mengusai kita dan memberi jarak yang teramat lebar hingga tidak bisa direngkuh. Apa aku harus ikut kursus berbicara dengan orang yang kukagumi? Oh ya terdengar sangat brilian. Rasa canggung itu seperti menelan biji duren, sulit digambarkan. Kenapa harus canggung? Ketika bertatapan denganmu, mata bertemu mata aku merasa jantungku berdetak secara tak beraturan, lepas kontrol. Aku bahkan merasa kau bisa mendengarkan...

Tidak Ingkar Janji

Pagi ini takbir berkumandang, menyerukan keagungan Allah, mengakhiri bulan yang suci ini. Dengan berakhirnya bulan suci ini beriringan pula dengan akhir dari air mataku. Ya, hidup harus terus move on, aku harus bisa berdiri lagi

Rencana RahasiaNya

Pagi ini, aku mengawali dengan senyuman lebar. Hingga mama bertanya-tanya padaku apa yang membuat aku tersenyum selebar ini, tidak seperti biasanya yang selalu murung. Aku sudah berjanji bukan? Melupakanmu adalah cara terbaik untuk semua. Aku berharap Tuhan masih mau berbaik hati dan menggantikan senyumku yang telah diambilnya, jangan cemburu sayang. Kamu masih menjadi orang yang spesial bagiku, tidak tergantikan namun tertutupi oleh yang lain. Yang lain? Hmm apakah ada? Hingga saat ini belum, bukan tidak. Iya, belum. Tuhan pasti sudah menyiapkan seseorang disana, ditempat rahasiaNya. Kira-kira seperti apa ya sayang orang itu? Apa ia sesabar kamu? Atau sedewasa kamu? Aaah aku tidak membayangkan dan belum punya bayangannya. Biarlah aku menikmati kesendirianku ini. Aku masih menyukai kesendirianku saat menghisap nikotin. Maaf sayang, sepertinya nikotinku itu sulit kulepaskan sekarang. Apa kelak lekaki pilihan Tuhan itu bisa meniupkan sejuk ke dalam hatiku yang kusut selama ini? Aku harap...

Janji

Malam ini aku terjaga lagi-lagi dan pasti akan mengahabiskan banyak kafein untuk membantuku lepas dari semua masa lalu tentang kita. Indah namun menyakitkan, menangisimu serasa seperti menggarami air laut. See? Percuma sebenarnya, aku juga tau aku seperti ini terus itu hanya membuatmu menderita disana. Iya sayang? Kamu menderita karena aku? Aku tau aku berdosa selama ini, setahun penuh.. lebih. Aku masih menangisimu, masih belum merelakanmu. Haruskah aku merelakanmu bersama usainya Ramadhan kali ini sayang? Malam ini gelisah aku memikirkan hal itu. Namun aku tau, sangat tau akan jawabnya, dan aku harus yakin kalau ini jalan terbaik untukku dan untukmu. Aku harus melupakanmu, harus? Iya, harus. Aku yakin kau pasti tersenyum diatas sana, dengan matamu yang bersinar teduh. Dan mulai malam ini aku akan merenggangmu dengan senyuman. Janji, tanpa air mata.

Hope

Harapan. Hari ini hujan kembali mengguyur kota ini, seharian penuh. Tanpa ampun, menangis mengiringi bulan Ramadhan yang akan berakhir. Ini malam tarawih terakhir, tahun lalu aku bertaraweh bersamamu ya sayang, di masjid yang besar itu, berwarna hijau. Kamu ingat? katamu besok kalo kita punya rumah akan kamu cat warna itu. Tapi sayang ya, kita tidak bisa merealisasikan mimpimu itu, maaf. Kita terhalang oleh takdir sayang, takdir memutus semua harapan dan asa kita.. Perlahan, tapi menyakitkan. Aku tau aku selalu bisa, dan bahkan sangat bisa melupakanmu. Tapi aku tidak pernah mau. Entah kenapa aku masih merasa kamu adalah yang terhebat, selamanya.

Aku Tau Kematian Selalu Menang

Hujan masih memuaskan rasa rindu  tanah kering yang merindunya sekerat karang. Hujan kali ini seperti sengaja membuatku mengulang kembali semua tentang kita , dari awal sampai tengah-tengah seperti sekarang. Akhir hanya bagimu, bagiku ini tengah. Kenapa? Karena aku tau jalanku masih panjang, tapi sayang aku tidak mau meneruskannya, buat apa? Percuma. Aku masih belum bisa membuka hatiku untuk hati lain. Masih ada dirimu. Iya aku tau kamu udah nggak ada, kamu udah pergi jauh meninggalkan aku. Kalau ada cara aku mau menyusul, tapi itu dosa. Dan aku nggak mau dosaku terlampau banyak. Kamu udah nggak ada, tapi kamu masih hidup di hatiku sayang. Iya disini, aku masih menjaganya. Apa salah? Kalau salah, katakan apa yang seharusnya aku lakukan saat ini. Sekarang juga. Karena aku lelah menunggu. Dan aku tau kematian yang selalu menang

Dan Ketika Aku Menangis Dibawah Hujan

         Siang ini, hujan deras mengguyur kota. Matahari enggan datang dan memeberi senyum hari ini, sendu total. Saat hujan aku selalu teringat tentang kamu, sayang. Biasanya saat hujan seperti ini kamu pasti akan menelponku hanya untuk bertanya "Sayang, di rumah hujan kan? Jangan nangis ya, aku masih ada buat ngelindungin kamu dari hujan kok, jangan takut hujan ya. Hujan tu asik kok" Sekarang? Nggak ada, nggak mungkin aku berharap kamu telpon aku sekarang, aku mencoba menghadapi realita yang ada, walaupun rasanya itu menampar wajahku keras-keras. Sekarang aku benci hujan, sangat. Karena aku selalu merindukanmu saat hujan. Aku tau aku harus tetap menjalani semua ini, seperti biasa. Sangat biasa. Tapi aku tidak bisa, canduku padamu akan selalu sakaw seperti ini, aku rindu kamu sayang. Harus berapa kali lagi aku mengucapkan itu? Aku tidak butuh jawaban darimu, aku hanya butuh jawaban dari Tuhan. Kenapa ia menarikmu kembali secepat ini? Apakah mung...

Ketika Kematian berkata "HARUS"

Lagi-lagi bayangan itu muncul kembali dan menggangguku. Bayanganmu setahun yang lalu. Miris rasanya. Aku berusaha memejamkan mata, berharap semua ini tidak pernah terjadi. Aku selalu benci, kenapa kecelakaan itu merenggut nyawamu, bukan nyawaku atau bahkan nyawa kita berdua saja sekalian. Aku benci harus hidup seperti ini, aku tidak bisa lagi mendengar bisikanmu yang merdu. Aku tidak lagi bisa merengkuh pelukan hangatmu. Sudah sebulan kepergianmu meninggalkanku, bukan untuk sementara, tapi selamanya. Tak sadarkah kau? Aku sampai saat ini masih menangisimu. Sayang, malam ini harusnya menjadi malam satu tahunan hubungan kita. Kamu ingat? Katamu saat malam setahunan kita, kamu akan datang ke penyewaan kostum badut dan meminjamkan kostum micky mouse dan minnie mouse untuk ita pake. Hahaha itu mimpi indah sayang, kau tau? Baru kali ini aku menemukan lelaki seromantis kamu. Tapi, kenapa Tuhan mengambilmu dariku? Cukupkah kau menemaniku selama ini, belum genap setahun sayang kita bersama. Dan...

nggerus #2

        Malam ini aku masih terbangun di dalam kamarku yang gelap, kamu tau aku memikirkanmu lagi. Akhirnya aku memutuskan keluar ke teras untuk berkeluh kesah pada bintang. Aku membawa benda yang mengingatkan tentangmu. Pertama aku membawa bercangkir-cangkir capuccino, minuman kesukaan kita dan aku yakin aku akan terjaga hingga esok hari. Karena banyaknya cangkir yang kubawa ini. Kedua, aku bawa pemantik api ini. Ingat sejarahnya? Katamu, "lebih baik kau genggam pemantik itu erat-erat daripada kau menjejali paru-parumu dengan menghisap asap kotor itu". Tapi kali ini aku sepertinya melanggar pesanmu, hatiku sudah terlalu sesak oleh rindu. Ketiga, aku memakai sweater usang kita, iya sweater kita yang kembar itu. Aku ingat ini hadiahmu saat aku ulang tahun. Keempat dan yang terakhir karena aku nggak mau mengobrak-abrik kamarku malam ini hanya untuk mengeluarkan semua kenangan tentangmu. Yang keempat adalah foto-foto kita dalam berbagai pose, ingat fotomu yang kuambil d...