Ketika Kematian berkata "HARUS"

Lagi-lagi bayangan itu muncul kembali dan menggangguku. Bayanganmu setahun yang lalu. Miris rasanya. Aku berusaha memejamkan mata, berharap semua ini tidak pernah terjadi. Aku selalu benci, kenapa kecelakaan itu merenggut nyawamu, bukan nyawaku atau bahkan nyawa kita berdua saja sekalian. Aku benci harus hidup seperti ini, aku tidak bisa lagi mendengar bisikanmu yang merdu. Aku tidak lagi bisa merengkuh pelukan hangatmu. Sudah sebulan kepergianmu meninggalkanku, bukan untuk sementara, tapi selamanya. Tak sadarkah kau? Aku sampai saat ini masih menangisimu. Sayang, malam ini harusnya menjadi malam satu tahunan hubungan kita. Kamu ingat? Katamu saat malam setahunan kita, kamu akan datang ke penyewaan kostum badut dan meminjamkan kostum micky mouse dan minnie mouse untuk ita pake. Hahaha itu mimpi indah sayang, kau tau? Baru kali ini aku menemukan lelaki seromantis kamu. Tapi, kenapa Tuhan mengambilmu dariku? Cukupkah kau menemaniku selama ini, belum genap setahun sayang kita bersama. Dan kenapa Tuhan mengambilmu tepat sebulan sebelum bulan Ramadhan tiba? Aku harus melewati puasa sendiri sayang, tak taukah kau? Aku merana, aku selalu telat bangun sahur, kenapa? Alarmku telah diambil Tuhan. Aku selalu menangis tiap malam usai shalat tahajud, kenapa? Karena Tuhan mengambil senyumku. Sayang, aku tau kau bisa melihatku dari sana, aku tau kau ada disampingku walau aku tak bisa melihatmu. Sayang, aku tidak lagi bisa berpura-pura kuat dan tegar setelah Tuhan mengambilmu. Aku ingin bersamamu sayang. Aku ingin bisa merengkuh senyummu lagi. Dan aku ingin mendengar desis bisikmu di telingaku.Aku tau aku HARUS ikhlas, HARUS rela. Tapi, ini sulit sayang. Sangat sulit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Usaha

Diam-diam

aku benci