Dan Ketika Aku Menangis Dibawah Hujan
Siang ini, hujan deras mengguyur kota. Matahari enggan datang dan memeberi senyum hari ini, sendu total. Saat hujan aku selalu teringat tentang kamu, sayang. Biasanya saat hujan seperti ini kamu pasti akan menelponku hanya untuk bertanya "Sayang, di rumah hujan kan? Jangan nangis ya, aku masih ada buat ngelindungin kamu dari hujan kok, jangan takut hujan ya. Hujan tu asik kok" Sekarang? Nggak ada, nggak mungkin aku berharap kamu telpon aku sekarang, aku mencoba menghadapi realita yang ada, walaupun rasanya itu menampar wajahku keras-keras. Sekarang aku benci hujan, sangat. Karena aku selalu merindukanmu saat hujan. Aku tau aku harus tetap menjalani semua ini, seperti biasa. Sangat biasa. Tapi aku tidak bisa, canduku padamu akan selalu sakaw seperti ini, aku rindu kamu sayang. Harus berapa kali lagi aku mengucapkan itu? Aku tidak butuh jawaban darimu, aku hanya butuh jawaban dari Tuhan. Kenapa ia menarikmu kembali secepat ini? Apakah mungkin aku terlalu buruk bagimu, hingga Tuhan mengambilmu, secepat ini.
Sayang, sebentar lagi hari lebaran. Sesak, tahun lalu aku bisa mencium tanganmu, aku bisa menangis di pelukmu, aku bisa meminta maaf padamu mendengar nasihatmu. Tapi kenapa tahun ini tidak sayang? Bolehkah aku menemanimu disana? Aku tau jawabanmu pasti tidak dan dengan nada membentak. Aku tau kamu ingin aku menjadi sosok yang kuat, kakak yang bisa menjadi tauladan adik-adikku, menjadi kebanggan keluarga yang kelak akan menjadi tulang punggung keluarga. Bagaimana bisa aku menjadi tauladan bagi mereka kalau tauladanku sendiri tidak ada? Hujan tak kunjung reda, membuat hatiku semakin sekarat dirasuk rasa rindu padamu, sayang.
Sayang, sebentar lagi hari lebaran. Sesak, tahun lalu aku bisa mencium tanganmu, aku bisa menangis di pelukmu, aku bisa meminta maaf padamu mendengar nasihatmu. Tapi kenapa tahun ini tidak sayang? Bolehkah aku menemanimu disana? Aku tau jawabanmu pasti tidak dan dengan nada membentak. Aku tau kamu ingin aku menjadi sosok yang kuat, kakak yang bisa menjadi tauladan adik-adikku, menjadi kebanggan keluarga yang kelak akan menjadi tulang punggung keluarga. Bagaimana bisa aku menjadi tauladan bagi mereka kalau tauladanku sendiri tidak ada? Hujan tak kunjung reda, membuat hatiku semakin sekarat dirasuk rasa rindu padamu, sayang.
Komentar