Jalan (dan) Semesta
Masih di jalan yang itu. Masih melewati semesta yang sama. Dan masih keadaan yang riuh deru lalu lalang kehidupan. Di jalan ini, sebuah senyum pernah tersungging. Sebuah tawa bahagia pernah terdengar, lebih tepatnya didengarkan. Dan di jalan yang sama pula, sebuah lantunan doa yang tulus pernah diucapkan mengharap diijabah. Semesta yang sama, semesta yang lalu. Yang seolah selalu menanyakan hal yang sama, "Kapan semua terulang kembali?". Pertanyaan yang menghempas kembali ke rasa sakit yang sama. Rasa sakit yang dibuat karena kebodohan diri dan euphoria yang berlebihan. Masih mematut diri, memperbaiki semua yang ada. Dan berharap suatu saat nanti, kelak, doa yang selalu dilantunkan diijabah dan bahagia. Bersama semesta juga.
Komentar