Masih?

Rasanya letih. Aku baru saja melepaskan sejuta asa tentang rindu yang tertahan selama ini. Mungkin rinduku tak akan pernah sampai atau berbalas. Rinduku sendiri sudah lupa arah tujuannya. Apa aku harus menjadi udara yang selalu kau jamah? Agar rindu ini mengingat kembali arah pulangnya? Agar rindu ini kembali menapak ke hatimu? Atau haruskah memang rindu ini didiamkan sampai ia benar-benar lupa dan menolak untuk ingat? Ketika ia menolak untuk ingat, ketika itu pula doaku terputus untukmu. Dan ketika hal itu terjadi, aku tidak yakin aku masih benar-benar hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Usaha

Diam-diam

aku benci