memudar

Aku masih terus berlari menyusuri lorong gelap ini, aku mencari ujungnya, lariku kupacu semakin kencang
nafasku semakin memburu tak beraturan, aku berteriak namun tak ada suara yang keluar dari teriakanku
kucoba lagi berteriak, memanggil namamu... Namun, lagi-lagi hanya jeritan tanpa suara yang muncul, aku menyerah. Aku berhenti berusaha memanggil namamu. Aku terus berlari, namun kali ini lariku semakin pelan dan lama kelamaan aku berhenti.. Aku berusaha melihat sekitarku dalam gelap ini, aku meraba berusaha menyentuh sesuatu. Namun, tak ada yang berhasil kurengkuh. Aku seperti berada di tengah ruangan yang luas, sunyi tak ada suara lain selain suara desah nafasku. Dan disini, dingin.
Aku terdiam, lalu menangis.. Aku masih berusaha memanggil namamu, namun tak ada suara yang keluar dari mulutku.. Akhirnya aku duduk sembari memeluk lututku, dengan gigi yang bergetar menahan tangisku yang teramat hebat, aku teringat sebungkus rokok pemberianmu masih ada di saku jaketku.. Aku keluarkan dari saku, lalu aku ambil satu batang dan aku ambil pemantik tua yang diatasnya pernah kau ukir nama kita berdua. Kuhidupkan batang rokok itu, kuhisap dalam-dalam, kuresapi... Rasa mint rokok itu mengingatkanku akan semua tentang kita, di masa lalu yang telah lama tertutup.. Asap rokok yang mengabut di depanku mengingatkan aku kembali kepada senyumanmu, dan teruntuk senyum itu...aku masih merindukannya hingga saat ini. Satu batang rokok tadi telah habis kuhisap, lalu aku ambil lagi batang yang kedua, kuhidupkan lalu kuhisap sambil memejamkan mata. Tanpa terasa di sudut mataku meneteskan air mata, aku merindukanmu sekerat ini. Aku masih terus menjejali paru-paruku dengan rokok pemberianmu. Hanya ini yang bisa aku rasakan lagi, karena kamu tak mungkin lagi datang dan menemaniku. Kamu telah abadi disana, melihatku dengan senyum puas, bahagia dengan penderitaanku disini. Dan tertawa karena aku sendiri yang telah membunuhmu, dengan kedua tanganku..di malam itu. Satu tahun yang lalu....

Komentar

Imam Syatibi mengatakan…
well... *nyumet udot*

Postingan populer dari blog ini

Usaha

Diam-diam

aku benci