jarak
Hujan turun dengan deras, membuatku mencium aroma bau tanah yang kental kurasakan dikala hujan. Namun kali ini beda, aku menikmati hujan ini sendiri sambil menelan capuccino kesukaan kita seperti kemarin-kemarin, sebelum kau pergi meninggalkanku di malam itu. Aku berusaha mengiris hatiku kembali, dengan cara mengingat semua tentangmu. Mengingat bagaimana kita berdua bersama saling mengecup satu sama lain. Mengingat gagahnya kamu saat kamu membelaku. Semua terasa pahit, dan menyakitkan. Seperti meneteskan air garam ke atas luka yang menganga lebar. Aku tak berjanji untuk tidak menggenangkan air mataku lagi untukmu, karena kamu memberikan luka yang sangat dalam di hatiku. Aku termenung, menerawang jauh ke langit gelap. Aku merindukan pelukmu saat hujan datang seperti ini. Aku merindukan kecupanmu di bawah hujan, seperti yang lalu-lalu. Aku merindukan genggaman erat tanganmu.
Hujan terus turun hingga larut, menyenandungkan bunyi gemericik yang mendayu di hati. Aku berbaring, memikirkan tentang hubungan kita...yang tepatnya sudah berakhir. Aku mencari, apa yang salah dalam ini semua. Dan aku tak juga menemukan apa yang salah diantara kita. Aku percaya semua kata-katamu, begitupun kamu padaku. Atau karena jarak?
Jarak? Jarak? Jarak?
Aku mengulangi kata-kata itu beratus kali hingga tidak ada maknanya bagiku. Hanya karena jarak? Apa kita sudah tidak bisa lagi melihat matahari yang sama? Atau tidak lagi melihat bulan yang sama?
Apakah kita berada di planet yang berbeda? Apa jarak juga yang mengikiskan rasa cintamu untukku?
Dan tanpa bisa kutahan, aku menangisinya lagi. Hubungan kita yang sia-sia hanya karena terpisah jarak. Dulu, kamu berkata jarak tidak akan pernah menghalangi cintamu padaku..katamu cintamu akan tetap melaju kencang seperti di jalan tol. Namun, aku tau itu sebelum semua masalah rumit ini datang menghampirimu, aku tau kamu merindukanku, terlalu merindukanku hingga kamu macet di tengah jalan, terhenti dan kandas. Seperti halnya hubungan kita. Dan pula pada hatiku, yang harus berhenti mencintaimu, di tengah jalan ini..
Hujan terus turun hingga larut, menyenandungkan bunyi gemericik yang mendayu di hati. Aku berbaring, memikirkan tentang hubungan kita...yang tepatnya sudah berakhir. Aku mencari, apa yang salah dalam ini semua. Dan aku tak juga menemukan apa yang salah diantara kita. Aku percaya semua kata-katamu, begitupun kamu padaku. Atau karena jarak?
Jarak? Jarak? Jarak?
Aku mengulangi kata-kata itu beratus kali hingga tidak ada maknanya bagiku. Hanya karena jarak? Apa kita sudah tidak bisa lagi melihat matahari yang sama? Atau tidak lagi melihat bulan yang sama?
Apakah kita berada di planet yang berbeda? Apa jarak juga yang mengikiskan rasa cintamu untukku?
Dan tanpa bisa kutahan, aku menangisinya lagi. Hubungan kita yang sia-sia hanya karena terpisah jarak. Dulu, kamu berkata jarak tidak akan pernah menghalangi cintamu padaku..katamu cintamu akan tetap melaju kencang seperti di jalan tol. Namun, aku tau itu sebelum semua masalah rumit ini datang menghampirimu, aku tau kamu merindukanku, terlalu merindukanku hingga kamu macet di tengah jalan, terhenti dan kandas. Seperti halnya hubungan kita. Dan pula pada hatiku, yang harus berhenti mencintaimu, di tengah jalan ini..
Komentar