aku mencintaimu dengan kebencian
aku benci ketika bertemu denganmu tubuhku harus gemetaran, dan lagi lagi jantungku berdetak 10kali lebih kencang
aku benci ketika aku memandangmu dan aku harus menggigit bibir bawahku dengan keras, meyakinkan agar aku tak berteriak kesenangan
aku benci ketika aku berpapasan denganmu, dan ingin menyapamu, namun tak sepatah katapun terucap, terlebih aku yakin kamu bisa mendengar detak jantungku
aku benci ketika aku pulang aku harus mengambil jalan memutar hanya untuk melihatmu duduk dan berkelut dengan puntung rokok itu, seperti biasanya. melihat kamu dibalik gumpalan asap putih tipis.
aku lebih benci lagi, aku tidak tau sampai kapan aku bisa menyimpan semua ini tanpa ada sedikitpun pengertian darimu?
entah apa kamu mengerti tentang kebencian ini, atau.. kamu sudah mengerti, namun kamu tidak mau tau?
aku harap pikiranku yang tadi salah
iya salah, sesalah perasaanku ini padamu
tetapi, jujur di saat aku bersedih hanya refleksimu dalam pikiran dan hatiku lah yang dapat menenangkanku. senyum, senyummu yang sangat khas itu yang selalu aku simpan rapat rapat di dalam hatiku, sebagai obat rasa sedih gundah gulanaku
walau kamu tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu
aku benci hanya bisa meraih bayanganmu, aku benci saat aku hanya bisa terus bermimpi dan bermimpi tentang kamu
aku benci mencintaimu dalam diam seperti ini, dalam diamku yang teramat sunyi
setiap bel istirahat berbunyi derap langkahku menegas mencarimu ke setiap sudut sekolah
mataku nanar mencarimu yang tak kunjung kudapatkan, namun aku tak habis akal
setiap pulang sekolah, di siang itu kamu yang selalu duduk menyilangkan satu kaki diatas kaki satunya
bergelut dengan batang batang rokok itu, wajahmu yang terlihat tegas dibalik gumpalan asap putih itu
aku hanya bisa mencintaimu dari jauh, memandang setiap gerik yang kau lakukan
aku benci ketika aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, dalam benci ini
aku benci ketika aku memandangmu dan aku harus menggigit bibir bawahku dengan keras, meyakinkan agar aku tak berteriak kesenangan
aku benci ketika aku berpapasan denganmu, dan ingin menyapamu, namun tak sepatah katapun terucap, terlebih aku yakin kamu bisa mendengar detak jantungku
aku benci ketika aku pulang aku harus mengambil jalan memutar hanya untuk melihatmu duduk dan berkelut dengan puntung rokok itu, seperti biasanya. melihat kamu dibalik gumpalan asap putih tipis.
aku lebih benci lagi, aku tidak tau sampai kapan aku bisa menyimpan semua ini tanpa ada sedikitpun pengertian darimu?
entah apa kamu mengerti tentang kebencian ini, atau.. kamu sudah mengerti, namun kamu tidak mau tau?
aku harap pikiranku yang tadi salah
iya salah, sesalah perasaanku ini padamu
tetapi, jujur di saat aku bersedih hanya refleksimu dalam pikiran dan hatiku lah yang dapat menenangkanku. senyum, senyummu yang sangat khas itu yang selalu aku simpan rapat rapat di dalam hatiku, sebagai obat rasa sedih gundah gulanaku
walau kamu tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu
aku benci hanya bisa meraih bayanganmu, aku benci saat aku hanya bisa terus bermimpi dan bermimpi tentang kamu
aku benci mencintaimu dalam diam seperti ini, dalam diamku yang teramat sunyi
setiap bel istirahat berbunyi derap langkahku menegas mencarimu ke setiap sudut sekolah
mataku nanar mencarimu yang tak kunjung kudapatkan, namun aku tak habis akal
setiap pulang sekolah, di siang itu kamu yang selalu duduk menyilangkan satu kaki diatas kaki satunya
bergelut dengan batang batang rokok itu, wajahmu yang terlihat tegas dibalik gumpalan asap putih itu
aku hanya bisa mencintaimu dari jauh, memandang setiap gerik yang kau lakukan
aku benci ketika aku hanya bisa mencintaimu dalam diam, dalam benci ini
Komentar