nggerus
Malam ini bulan bersinar dengan indahnya, cahanya yang kemilau mengguyur parasku. Namun sayang, bulan seindah itu hanya kunikmati untukku sendiri. Iya, aku sendiri, masih duduk di bangku lama kita seraya menatapi bulan, berharap bulan itu kan tersenyum dan mengerti perasaanku tentang dirimu, yang semakin hari semakin menjauh. Aku menangis, meneteskan air mata yang aku tau ini semua sia-sia. Mau sebanyak apapun aku menangis, kamu tidak akan pernah menjadi seperti yang dulu. Aku melihat ke display HP ku, kosong, tanpa ada namamu yang menghiasi display itu, seperti 2 minggu yang lalu. Aku bungkam, mulutku tak lagi bisa meronta meraung seperti biasa. Percuma, aku tau kita hanya akan jadi biasa seperti ini, bukan lagi seperti yang dulu. Kita saling berakting tidak saling mengenal, kita berakting dengan bagusnya hingga hal itu mampu menusuk hatiku dan menghancurkannya. Aku ingin berteriak dan mendatangimu, namun hembus angin malan menahanku untuk tetap disini. Aku tau aku lebih baik untuk berdiam, melihat semua ini sendiri dalam dingin, sepi, dan perasaan yang kian hari kian mengarat dan akan hancur.
1 jam berlalu dan aku masih betah duduk disini sendirian. Angin malam semakin kencang meniupkan hawanya pada tubuhku. Dan gerimis datang, aku tetap bersikeras duduk disini hingga kau datang lagi. Angin semakin kencang dan gerimis menjelma menjadi hujan lebat yang menghantam tubuhku dengan keras dan tanpa ampun. Aku masih duduk, dingin, dingin sekali rasanya. Gigiku bergemeletuk kedinginan. Pandanganku mulai sayup, aku masih menunggu. Hingga tak lama kurasakan, mataku berkunang-kunang, badanku menggigil dan aku tau apa yang selanjutnya terjadi, aku tak sadarkan diri. Selamanya
Komentar