Abstrak
Yak, dari judulnya aja udah nggak jelas. Ini tuh abstrak, susah diungkapin pake kata-kata, susah juga diungkapin pake perbuatan. Nggak ngerti juga, kenapa selalu berada diposisi kayak gini. Udah berusaha buat ngehindar, tapi selalu aja semesta masa lalu bisa menemukan dan mengahncurkan semua benteng beton yang kokoh berdiri. Nggak ngerti harus gimana, nggak mau juga ngelepas yang di genggaman tangan, rasanya udah menyatu. Sejuk, kaya diterpa angin sepoi-sepoi. Rasanya nyaman, tanpa ada rasa getir. Tanpa ada? Atau belum? Aku juga nggak ngerti, sebulan. Nggak ngerti, semudah itu dia bisa masuk ke kehidupan aku dan mengkudeta rasa sakit yang lukanya menganga parah. Kadang, sempet mikir juga, apa semua ini hanya akan berhenti ditengah jalan lalu menghilang dimakan masa? Layaknya kopi panas yang sedang diseduh dan dirasa manisnya, yang tiba-tiba menjadi dingin dan pahit. Apa akan seperti itu kelak jadinya? Aku tidak pernah tau, dan tidak akan pernah bisa memprediksikan. Aku hanya menyayangimu dengan abstrak. Tidak terdefinisi. Aku menyayangimu, yang mengajarkanku mengeja kata tawa, mengeja kata bahagia, dan mengeja kata saling membutuhkan. Ketika bersamamu, aku tau semesta membagi sedikit bahagianya untukku, yaitu denganmu. Akankah? Bisakah?
Komentar