Patah
Aku bukan cuma hancur, tetapi juga remuk. Aku tak hanya menangis, tetapi meronta meraung sakit .Aku bukan pemenang, tapi pecundang. Aku tak hanya meradang, tapi juga terbakar. Aku sakit, hatiku hancur dan hilang. Aku berontak akan semua ini, tapi semua seperti tak bergeming dengan inginku. Semua seolah hanya desau angin yang menerpaku, semakin membuat pedih luka yang menganga lebar ini. Aku tak ingin untuk mengobatinya. Kenapa? Sia-sia, kelak luka ini kan terbuka kembali. Aku hanya bisa menangis, kalau bukan itu apa lagi? Mau tertawa? Tawaku itu tawa hampa, tawa kosong, tawa kematian. Tersenyum seolah tak pernah terjadi apa-apa? Senyum yang pura-pura, senyum palsu. Entah kenapa ini semua terasa getir sekali untuk kurengguk. Pahit, pedih silih berganti melengkapi getir yang kurasa. Menyedihkan bukan? Tuhan terlalu sayang padaku, itulah alasan kenapa Ia begitu dalam menyakitiku, untuk membangunkanku dari mimpi-mimpi indahku yang tak mungkin pernah mendapatkan izin-Nya untuk menjadi sebuah kenyataan, tuk menjadi sebuah kenangan dan cerita indahku.
Komentar