Dari barat untuk tenggara

Hai tenggara, perkenalkan aku barat. Disaat matahari pulang, warnaku menjadi jingga-kemerahan, ketika itu banyak yang terpukau akan keindahanku. Si arah selatan terkadang mengirimiku bisikan kata cintanya melalui desau angin yang ia hembuskan kepadaku, lalu utara ia juga melakukan hal yang sama dengan selatan, mengirimiku beratus kata tentang cinta, sedangkan timur? ia melakukan hal yang sama, mengiringi matahari sepertiku, membuatku terpesona akan keanggunannya dikala matahari terbit, mengirimkan isi hatinya melalui kabut tipis yang mudah hilang dengan rasa dingin menggigit yang membuatku nyaman. Namun suatu ketika aku bosan dengan manja-manjaan yang mereka beri, mereka hanya mengajariku untuk bahagia bukan untuk menderita. Mungkin aku terlalu angkuh, aku berpaling dari mereka aku tertarik pada seseorang yang ada di antara si timur yang gagah dan selatan yang rupawan. Si tenggara, iya tenggara, seseorang yang mungkin hanya dianggap sebelah mata atau bahkan sama sekali diacuhkan. Di luar dugaan, tenggara mengacuhkanku, ia rupanya tidak terpesona oleh kemolekanku. Awalnya aku berfikir untuk berhenti mencoba memperhatikannya, namun ternyata aku salah, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari si tenggara. Si tenggara masih saja berusaha mengacuhkanku, namun aku masih saja menganggap diriku tak teracuhkan, hingga saat ini. Aku, barat masih akan terus berusaha membuat tenggara berhenti untuk mengacuhkanku. Aku akan menunggunya, sampai aku menyerah dan memutuskan untuk tidak akan pernah menoleh ke arah itu lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Usaha

Diam-diam

aku benci