Seharusnya.
Seharusnya kalau begini ceritanya aku tidak membiarkan kamu masuk ke dalam hidupku. Seharusnya aku tidak membiarkan untaian cerita itu meluncur keluar dari mulutku untuk diperdengarkan. Seharusnya tidak secepa itu kuberikan percaya pada kamu. Seharusnya tidak pula aku membandingkan kamu dengan papa dan berkata dalam hati bahwa kamu memang mirip beliau. Seharusnya kamu bukanlah tempatku untuk bermanja. Seharusnya kamu bukanlah tempat untuk mendengarkan semua keluhku. Seharusnya kamu tidak memilih untuk menyukai dia. Seharusnya kamu tidak membandingkan aku dengannnya. Dan, seharusnya kamu bukan masuk ke hidupku untuk dia, seharusnya kamu masuk saja ke hidupnya. Seharusnya aku tidak menyukaimu. Aku tidak usah merasa nyaman di dekatmu. Seharusnya kamu, tidak usah peduli padaku. Seharusnya aku bisa menahan semua rasa sakit ini. Seharusnya aku bisa tidak menangis. Seharusnya aku bisa untuk tetap bungkam dan menelan semua pesakitan itu. Dan seharusnya aku masih mencintai yang lalu-lalu saja. Seharusnya aku masih menengadah berharap pada kisah lalu yang bisa dimulai kembali. Seharusnya aku bahagia karena dia yang lalu, bukan kamu. Seharusnya senyum ini untuk dia yang lalu, bukan kamu. Dan seharusnya ucapan selamat pagi itu bukan untuk kamu, tapi untuk dia. Seharusnya sekeping hatiku yang baru itu masih untuk dia yang lalu, bukan kamu. Seharusnya aku hilang ingatan tentang kamu.
Komentar